Dunia Sastera

Kemarin, aku bertemu dengan rindu
ia tersenyum malu, sungguh, ia terkejut bertemu denganku
pipinya merah jambu bersemuka meskipun tubuhnya kini membiru
urat letih membayangi wajahnya
seperti ada cinta mendentami hatinya
kupikir ia sudah terbang, kembali pada Tuhannya

“Mengapa tak kau selimuti dirimu dengan pasrah
dan pulang pada Tuhanmu?” tanyaku pada rindu

“Aku tak tahu.” jawab rindu
“Rasanya ini tak semudah yang kau bilang dulu.”

Terakhir kami bertemu, ia sesat jauh ke langit ketujuh
mengetuk pintu arasyNya sepenuh cita sepenuh cinta
tak sedetikpun ia menoleh ke bumi yang dipenuhi
berbunga-bunga cinta yang merasuk, membusuk dan lapuk

Lalu kuhitung satu, dua, tiga umurku
namun tak kudapati waktu di mana aku pernah bertemu dengan
rindu, ia kini begitu membiru
dan aku tak tahu bagaimana harus berlaku

Duhai!
rinduku sayang, rinduku cinta,
aku kehilangan daya untuk mengeja
tak kira bagaimana cinta harus kusapa

Rindu menangkap sanubariku
bersama matahari dan bintang yang tiba-tiba jatuh

“Tak apa.” rindu tersenyum seolah-olah tahu
“Tunjukkan saja aku ke mana air mengalir, di mana fajar beredar.
Mungkin aku kehilangan sayap, tapi aku punya bumi untuk berpijak.”

Kulepas genggamku pada rindu
lalu berjuta kupu-kupu terbang ke langit biru
mereka tampak begitu rindu

apakah mereka menjemput rindu?
akankah mereka membawa rindu?
ataukah mereka jelmaan rindu?

Tidak!
lalu siapa yang akan menjala recik-recik air
dan menebar hangat mentari sang fajar?
meskipun hanya sebongkah rindu yang membiru,
ialah yang mengajarkanku artinya bertahan hidup!
: bukan membiarkan cinta merajam-rajam rapuhnya jiwa,
sekadar mengukir waktu dengan gemulai yang dijelang beku
berteman lidah yang kelu
maka cinta yang merasuk kelak membusuk dan lapuk
inilah bukti sejatinya apabila rindu menjelma dan pasrah yang kian
merekah

Langit telah penuh dengan kupu-kupu
terdengar lagi senandung yang dulu
itulah dia rindu!

kiriman: syazie

SIAPA???

Posted on: Mac 2, 2008

Dinihari!!!
Kerinduan mula terasa
kisah silam telah tenggelam
Tadi siang berlalu perlahan
Ku kumpul setiap kerinduan ini
Yang terlantar dipuncak sepi
Ya!!! siapa yang ku layari untuk ini???
Siapa yang mengikat jiwa ini???
Siapa yang yang menebarkan rindu ini???
Wajah siapakah yang ku rindui
Manakan bisa ini
Tidak pernah ku kenal
Yang datang mencuri ketenangan
Memberi satu kekuatan
Memberi satu sinar
Memberi satu semangat
Tapi sungguh menyesakkan
Walau apa pun
Terima kasih sayang
Bertamu tanpa rupa suara dan wajah
Itulah misterimu
Tapi aku pasti
Suatu ketika kau pasti
Bertandang untuk ku….
Setia ku menanti
Walau pun satu penyiksaan….

Nukilanrasa
Sha…..

Demi usia ku
sesungguhnya orang yang mabuk kerinduan
dicela kerana menangisi orang yang di kasihinya
dengan deraian air mata yang bercucuran deras.
ia berkata:-
“mengapa engkau menangis
setiap kali melihat kuburan
yang ada di antara liwa dan dakkak?”
maka ku jawab dia
bahawa sesungguhnya tangisan ini
merupakan ungkapan kerinduanku
maka biarkanlah aku menangis
kerana di sinilah letak kuburan saudaraku…..

masa meratapi bekas peninggalan kejayaan
sesudah tangisan mata
kerana tiada gunanya menangisi bayangan dan rupa
sungguh aku melarang mu
dan tidak segan-segan untuk memberi nasihat
agar jangan cuba-cuba tidur
di antara taring dan cakar singa
aduhai, sekiranya masa
menebus segalanya
dan menebus “khilaf dengan siapa pun
di antara manusia yang di kehendaki……

Nukilanrasa
Sha….

Ku terpukul angin
terbawa dari jauh, tempatku meluruh

Tenang kubawa
topeng penuh derita, lara cinta

Tegak kepala
tunjukkan dahi, banggaku perih

Angin yang kau tebar aroma sayat ulu hati
belah yakinku : tentangmu

Lalu...

Tegak kepala
kuhapus air mata : patah asa

Angin hembus rambutku, belai sedihku
Kesepian temaniku, saat tiada kamu

Nantiku terpeluk sakit, tesudut pelik

Angin...
Sampaikan, luka hatiku : aku tak mampu menangung rindu

Sudah berbilang musim beta tidak juga pulang
Meski kapal-kapal bersipacu nasib baik belum
berkunjung
Ada luka tersimpan disana, mau bikin apa sio gandong
Itu tanah milik siapa sio kona nama yang hilang

Siapa kini penjaga  cahaya jika bobato tergiur kursi
Masjid dan langgar sepi puisi tak ada lagi yang baca
barjanji
Di singgasana para kolano memanen rejeki
Melingkar janji dengan tarian jin salai, eeee
doti-doti

Sudah berbilang musim kaki langit terkurung mendung
Tapi  tuan governur bilang jangan coba untuk pulang
Ale masih harus bikin perhitungan di tiang gantung
Kalau mau terus berdiri sebagai petarung, sio gandong

Tuan boleh unjuk gigi pake manyiang deng kabaya donci
Tapi beta anak negeri dengan seribu panah puisi
Kalau sampe beta marah nanti, beta bikin laut mandidi
Ikan-ikan lari, irama tifa deng bunyi tahuri, tuan
mati

”Mari tuan katong baku cigi, beta siap mati”

Banda Aceh, 24 Februari 2008-02-25
dino f. umahuk <valdinho74@yahoo.co.uk>

Kaicil Paparangan= Gelar Sultan Nuku
Basudara tuang hati jantong= Saudara sehati se jantung
Gandong= Saudara kandung
Sio kona= aduh kasihan
Bobato= Pemuka agama dan adat di Maluku Utara
Kolana= Kepala Pemerintahan Adat di Maluku Utara
Jin Salai= Tarian Jin
Doti-doti = ilmu hitam
Manyiang deng kabaya donci= pakaian untuk ke pesta
Mandidi = mendidih
Tahuri= alat musik dari kulit bia (kerang laut)
Baku cigi= memancing ikan kecil untuk umpan

Lalu nona tikam janji seperti setan bermain api
Perempuan dengan mata setajam duri
Darimana cakar kuntilanak menorehkan hati
Kau selalu saja diam-diam menyimpan belati

Maka pada purnama kesekian yang menelikung janji
Kita semakin tak bisa mengukur debar di urat nadi
Ada saja air garam kau rebus di dalam panci
Berharap cinta cepat matang dia malam hari

Aku bukannya tak pernah sudi memadu janji
Tapi jarak semakin tergugu di ujung jemari
Perempuan dengan rambut sehitam kenari
Sudah berapa rindu pernah kau titip ujung pelangi

Banda Aceh, 24 Februari 2007

dino f. umahuk

Kembali Ke Titah
Oleh: D Kemalawati

Ketika saya telah menerima tawaran Dino Umahuk untuk
menulis pengantar untuk buku puisinya, saya baru
menyadari bahwa saya belum pernah membaca satu puisi
pun karya Dino Umahuk secara bersungguh-sungguh. Saya
baru mengenal Dino beberapa bulan yang lalu. Beberapa
kali saya melihat  Dino tampil pada pentas
musikalisasi puisi bersama Rahmad Sanjaya dengan
komunitas Rumah Sawahnya. Dino memang baru menetap di
Banda Aceh walau pun jauh sebelumnya dia pernah
berkunjung beberapa kali ke Aceh, baik ketika masih
mahasiswa maupun ketika konflik berkecamuk di Aceh.
Setelah tsunami melanda Aceh, Dino kerap datang dengan
misi kemanusiaannya. Dan akhirnya ia memperoleh
pekerjaan yang mengharuskan ia menetap untuk beberapa
tahun mendatang di bumi Iskandar Muda ini.

Ternyata begitu draf buku puisi berada di tangan saya,
saya justru merasa bahwa saya sedang membaca karya
para penyair Aceh yang menuliskan keindahan alam
baharinya dengan penuh imaji, kerinduan pada Sang
Khalik, keterasingan dalam negeri sendiri karena
konflik yang sengaja diciptakan, tentang hilangnya
rasa kasih sayang, serta musibah besar gelombang
tsunami. Beberapa puisi cinta yang ditulis Dino
menggunakan imajinasi yang sama dengan penyair Aceh.
Maka sajak-sajak Dino menjadi sangat familiar bagi
saya meski pun alam kelahiran Dino yang jauh di Ambon
sana memiliki kultur  yang mungkin agak berbeda dari
Aceh.

Puisi-puisi yang terkumpul dalam Metafora Birahi Laut
ini ditulis dalam berbagai tema. Lalu sang penyair
memilah berdasarkan tema dengan memberi sub-sub judul.
Yang menurut saya pada sub judul Haluan Menuju,
puisi-puisi Dino sangatlah kuat dan memiliki nilai
religi yang agak jarang ditulis oleh penyair seusia
Dino. Oleh sebab itu maka  pengantar saya beri judul
Kembali ke Titah, yang kiranya tak meleset jauh dari
apa yang ditulis Dino tentang kematian dan jalan
pulang.

Setiap detak nafas adalah meringkas jalan pulang
entah bersama entah sendiri
menempuh jarak ke pangkuan Ilahi Rabbi
(“Berlayar Pulang”)

Dino menyadari bahwa setiap detak nafas tak lain
adalah pengurangan usia bagi makhluk hidup. Manusia
yang kadang alpa memaknai helaan nafas selalu berlaku
sombong dan angkuh merasa hidup akan selamanya.

Bagi Dino, mati bukan soal. Karena siapa pun yang
hidup akan mati apabila telah sampai ajalnya. Tetapi
yang diresahkan Dino adalah bagaimana cara dia
menjumpai Ilahi Rabbi jika selama hidupnya ia merasa
penuh dosa.

Mati bukan soal apa tapi bagaimana
menuju pulang lautanku penuh jelaga
(“lautan Jelaga”)

Kalau pada puisi Lautan Jelaga, Dino meresahkan
dirinya yang akan kembali tetapi lautannya penuh
jelaga maka pada menuju kematian, ia meyakini
tiap-tiap yang hidup akan mengalami mati. Banyak sebab
seseorang itu mati. Ada yang mati dengan tenang, ada
yang mengalami kecelakaan, musibah bencana alam, mati
karena aksi kekerasan hingga mati bunuh diri dengan
meracuni diri bahkan sampai aksi bunuh diri dengan
memasang bom yang bukan hanya berniat menghantar
kematian diri sendiri tetapi memaksa malaikat membawa
nyawa-nyawa lain yang tak bersalah. Dino menulis dalam
Menuju Kematian

Seperti apapun nyawa-nyawa melangkah pergi
hanya soal cara bagaimana malaikat menghampiri
(“Menuju Kematian”)

Bukan, bukan kematian itu yang dipermasalahkan karena
semua yang hidup pasti akan mati. Soal  cara bagaimana
Malaikat menghampiri untuk mencabut nyawa seseorang
yang kemudian  sering merupakan sebab yang
diperbincangkan.

Izrail mengintai nyawa-nyawa untuk dikirim
pulang ke langit tujuh lapis
di Baiturrahman sayapnya singgah telah
terangkat seratus ribu lebih nyawa
(“Izrail Mampir di Bumi Aceh”)

Ketika tsunami melanda Aceh, Minggu pagi 26 Desember
2004, malaikat bergentayangan hilir mudik melintasi
Serambi Mekah. Ia melihat air laut tumpah
menghilangkan tanah daratan. Izrail datang mengintai
nyawa-nyawa untuk dikirim pulang. Saat itu ratusan
ribu nyawa terpisah dari badan dan banyak kita melihat
tapi tak mengenal maka hanya Izrail yang menandai
tubuh dan roh yang dibawa pergi.

Kematian adalah kematian tulis Dino dalam puisinya.
Tapi menyaksikan kematian yang akibat bunuh membunuh
menimbulkan gulana hingga ia perlu mengajak umat
beragama untuk menanyakan pada Rasulnya masing-masing
apakah memang agama Tuhan mengajarkan umat manusia
untuk saling membunuh.

Bila nanti siang kau sholat Jum’at
barangkali di Mesjid Al-Fatah
atau hari Minggu nanti kau ibadah
atau ikut Missa mungkin di Gereja Maranatha
mungkin di Kadetral
tolong tanyakan kepada Muhammad dan Isa
yang Agung itu
apakah mereka mengajarkan agama Tuhan
agar saling membunuh?

Kalau memang demikian
mengapa agama melarangku bunuh diri

(“Agama Bunuh Diri”)

Membaca puisi-puisi Dino meskipun menggunakan bahasa
yang terkesan klise tapi  pencarian diri telah sampai
pada titik yang mencengangkan. Hanya dengan bahasa
yang sederhana kita diajak untuk menerima dengan
ikhlas apa yang seharusnya akan terjadi. Ia tidak
mengeklusifkan dirinya dengan keimanan yang dianutnya.
Tentu yang sangat diinginkan adalah suasana damai di
muka bumi tanpa ada pertumpahan darah sehingga ia
memerlukan mengajak umat Nabi Muhammad dan kaum Nabi
Isa untuk menanyakan tentang ajaran agama
masing-masing tentang bunuh membunuh.

Selain puisi-puisi bernuansa religi, puisi-puisi cinta
baik untuk tanah kelahiran maupun untuk sang kekasih
bertebaran dalam kumpulan puisi ini. Beberapa sajak
pelarian menguatkan kerinduan Dino pada kampung
halamannya dan kegelisahannya dapat kita pahami
apabila limit waktu kepulangan tak ada kata pasti.

Ini bulan keduabelas
dari pelarianku yang tak kenal batas waktu
bersama keyakinan yang membongkah jadi batu
adakah jiwa sunyi ini
punya tempat untuk pulang

(“Sajak Pelarian V”)

Betapa bedanya seorang pelarian dan seorang perantau
ketika merasakan kerinduannya pada kampung halaman.
Sang perantau tanpa rasa gundah akan pulang kapan saja
ia inginkan, tetapi bagi seorang pelarian tentu tak
seleluasa perantau. Bisa jadi selamanya ia tak bisa
kembali meskipun kampung dan seluruh penghuninya tak
ada lagi.
Sebagai seorang anak yang mengharapkan ibunya, Dino
sang penyair masih selalu berharap.

Ibu
mimpi pasti membunuhku malam nanti
di tanah pelarian yang begini jauh
apakah doamu akan sampai?

(“Ibu”)

Betapa menderitanya seorang pelarian. Tak ada rasa
aman, sebab mimpi pun akan membunuhnya. Tapi meskipun
ia terbunuh ia masih mengharapkan doa dari orang yang
telah melahirkannya. Sebuah doa yang diyakininya akan
diaminkan malaikat dan dikabulkan oleh-Nya.

Dino tidak cengeng dalam karya meskipun ia hidup dalam
pelarian yang panjang.. Konflik yang melanda Ambon
memang memisahkan dirinya dari hangatnya pasir putih
dan lincahnya gelombang laut. Hanya raga yang memberi
jarak tetapi batinnya, batinnya sangat dekat mendekap
Ambon. Puisi-puisi yang terdapat dalam Kipas Lenso
Putih benar-benar menghipnotis kita seolah-olah kita
hadir di kota yang sangat eksotis itu. Kita seakan
berada di teluk, di sebuah dermaga tua dengan perahu
mengambang dan ikan menari-nari di bawahnya. Telinga
kita seakan mendengar nyanyian para jejaka dan kipas
lenso diayunkan. Angin semilir, langit temaram dan
kaki-kaki perkasa sambil bersiul melempar jala dan
percikan air laut menerpa rahangnya. Aroma mantra dan
Pattimura yang muram benar-benar menyatu dalam Kipas
Lenso Putih.

Dino telah bercerita banyak hal dalam puisinya . Ia
kadang meliarkan imajinasi kita dengan bahasa
sederhana. Hanya yang membuat kita sulit menyelusuri
perkembangan kepenyairannya justru karena dalam
penyusunan puisinya Dino tak mengurutkan berdasarkan
tahun penulisan. Tapi bagaimanapun Dino telah
memberikan sesuatu yang berharga dalam karyanya yang
mungkin akan kita rasakan manfaatnya suatu saat nanti.
Dan bagi saya yang baru membaca karya Dino, saya
menemukan kepuasan yang luar biasa meskipun saya tidak
bisa menulis pengantar yang lebih bagus. Karena
sesungguhnya saya seorang penulis, sama seperti Dino
Umahuk.

Terpandang aku
Bicara rendah hati si bunyi embun
Terdengar dalam gemersik bisik malu
Semboyan itu telah berbunyi
Perlahan dan penuh tatatertib…

Buka lah mata mu..
Buka lah segala deria pendengaran ..

Bukalah pintu hati mu..
Dia telah lama di depan pintu…

– oney –

Ada apa pada cinta??
Suatu Masa dulu bagiku cinta itu suci
Tiada apa yang boleh menandingi
Tapi kini semua itu tiada lagi bererti

Ada apa pada cinta??
Hanya manis pada bicara
Kononnya tiada curiga
Kan kekal ke akhirnya

Ada apa pada cinta??
Hanya duka dan lara
Tidak difahami bagi mereka yang tidak mengalaminya

Tapi,
aku percaya pada satu cinta yang tiada akhirnya
Hanya cinta pada yang Esa…….
Kan kekal selamanya………

“ctshuhadah”

Malam ini suasananya berbeda…
Kupandang langit begitu indah…
Begitu banyak bintang di angkasa…
Berkilau seperti intan permata…

Namun di antara berjuta bintang…
Hanya satu yang kupandang…
Ada yang berbeda dari kilaunya…
Tak seperti bintang pada umumnya…

Hati ini pun ingin memilikinya…
Tapi apa daya kuhanya manusia biasa…
Ku tak sanggup untuk menggapainya…
Ku hanya bisa memandanginya…

Akankah bintang itu turun ke bumi…???
Dan bersinar di hati yang telah lama menanti…
Apapun bisa saja terjadi atas kehendak Illahi…
Akupun bersabar menanti bintang pilihan Rabbi…

“syazie1979”

Dua Insan,
Yang berjanji sumpah setia
Ingin hidup kekal bahagia
hingga ke akhirnya.

Dua Insan,
Bahagia cuma seketika cuma
cinta sayang kasih entah kemana
alpa dengan kehadirannya….

Dua Insan,
kini diterjah insan ketiga
hatinya diguris bak sembilu
terlerai sudah janji setia
tak mampu diungkapkan dengan kata kata…

Kini,
berserahlah dikau pada yang Esa
Cinta yang berputik terlerai jua
Tak mampu untuk kau menahannya

Cinta yang dibina telah pergi jua..
Tak menoleh ke belakang lagi…
hanya doa dipanjatkan..
agar dapat meneruskan hayatnya
Tanpa kehadiran dia….

Kau kecundang akhirnya……..

“ctshuhadah”

Telah ku berikan ruang
Walau sangat sempit
Dan karat bumbung nya
Untuk kau berteduh sementara
Menghilangkan lelah
Kepenatan bekerja
Setelah berjuang dalam masa harian mu

<>

Di ruangan itu
Cukup untuk kita berseloka
Belajar tentang kata-kata prasasti terindah
Yang menjadi jalan kita menjelmakan kata
Tanpa perlu menunjuk bentuk di sebalik rupa

<>

Di ruang yg hangat itu
Aku menyediakan gerbang² pintu untuk kau mencari
Aset² yang perlu kau ada..
Tunjang² yang menyokong kau menegak berdiri
Menghapuskan sisa jajahan yang menjadi bara
Dan titik keterbukaan dirimu untuk sesiapa selepas ini

<>

Di ruang terpencil itu
Aku yang menjadi dinding melihat kau tatih berdiri
Aku jadi bumbung lindungi mu semasa detik pencarian
Aku menjadi pintu lorong menunjuk aset perlumu
Aku menjadi air menghapuskan bara menyala merah
Dan di setakat itu sahaja yang mampu aku berada..
Kerna aku bukan siapa²…

<>

Dan
Sehingga semalam
Aku mencari mu di ruang seperti lazimnya
Ingin menemanimu mengira bintang² berseri
Yang telah kau temui di jarak pencarian ..

<>

Dan sehingga terbit fajar tadi
Ku menganggap ..
Ruang itu telah mati..
Tidak kan ada yg akan kembali
Kau telah temui ruangan baru
Di semilir pesada bintang berkilauan
Dan meninggalkan aku yg kelelahan…

– oney –
11:48
20 feb 08

Syarifah Nor Azizah Syed Mohamed
Embun pagi membasahi pipi
Menyedarkan daku dari terus dibuai mimpi nan indah bersamamu
si gadis Jepun pemikat hati
bagai rembulan di kamar sepi
tak puas daku diulit mimpi nan indah
tetiba sang fajar datang menganggu
membawa ku kembali kea lam REALITI….

Myelina Tashiro <myelina_tashiro@yahoo.com> wrote:
Citra cinta
apakah harum mawar
bersemadi di tamannya
aku embun yang hidup
di celah-celah damaimu
jelita dalam manja
senyum tawa tangis amarah
menghadiahkan peribadi
yang mengaromakan lagi
taman sendaloka
mahligai impian bersama

Ini citra cinta kita
abadi di manapun berada
ketika dekat walaupun jauh
tiada ada rasa terpisah
jejarimu menakluk kalbu
kalbuku menyimpan damai hatimu
ini citra cinta kita
satu di dalam maknanya
Tuhan Maha Tahu
di mana kamu di situ aku
di mana aku di situ kamu…

Myelina san 🙂

— In Alhaddads@yahoogrou

ps.com, Syed Badrul Hisyam Alhaddad <al_haddads@…> wrote:
>
> Bagai embun
> Bahagia yang datang
> Sekejap dan seketika cuma
> Belum puas aku tersenyum
> Belum puas aku ketawa
> Fajar telah pun menjemputnya pergi
>
> Bagai embun
> Cinta yang bertandang
> Saat aku leka di dalamnya
> Saat aku terbuai olehnya
> Saat aku merasa ketenangan
> Fajar itu telah menjemputnya pergi
>
> Bagai embun
> Itulah bahagia yang pernah ku kecapi
> Sekejap dan seketika cuma
> Namun membasahi setiap ruang hidup ku
>
> Bagai embun
> Itulah cinta yang pernah kulalui
> Saat aku leka didalamnya
> Hanyut dalam kesuciannya
> Menabur janji dan harapan untuk bersama
> Dia telah pergi mengadap ilahi
>
> Bagai embun
> Suci, dingin dan sejernih mutiara
> Hadir sepertiga malam
> Berlalu di saat fajar tiba..
>
>
> Pencinta penulisan
> Syed Badrul Hisyam Alhaddad
> http://alhaddads.wordpress.com
> join saya (klip sini)

Kelmarin…kita ayun langkah bersama
Kelmarin…kita pernah menimang rasa
Kelmarin…ada rindu di hujung impianmu dan impianku
Kelmarin…sebait kenangan tentang kau dan aku

Aku tak ingin bicara lagi tentang kelmarin
Jika langkah kita tak lagi terayun bersama
Jika kita tak lagi menimang rasa
Jika rindu tak lagi menunggu di hujung impian

Mungkin…kita memang tak harus bersama
Sejak kau kejar mimpimu
yang di sana tak lagi ada aku…

Myelina Tashiro.
20 Feb 2008.

Aku

Posted on: Februari 25, 2008

Kemarin bukan Aku…
Hari ini tak kutemukan Aku…
Adakah esok Aku ?
Sayapku patah…
Cahayaku memudar…
Ku sunyi ditengah riuh
Ku Hitam ditengah putih
Aku Layu…
Aku Jatuh…
Aku Hilang…
Aku Rapuh…
Aku Luka…
Tegarku hanya fatamorgana
Mudah hilang dalam satu kedip mata
Lalu kembali ke mulanya
Menjadi padang pasir
Yang panas…
Yang gersang…
Yang terasing…
Senyumku tabir paras
Candaku selimut perih
Riangku hanya maya
Aku tersesat dalam labirin duka
Perih…
Sakit…
Lelah…

kiriman: “syazie1979”

Bagaimana mahu aku bicarakan
Perasaan daku tika ini
Terasa jantungku laju berdegup
Bagai tersimpan satu perasaan
Yang tersasar jauh dari jangkaanku

Sejak ku terpandang wajahnya
Terdengar satu suara menyatakan
Dia milikku…
Terasa satu perasaan yang tidak dapat diungkapkan
Terasa satu perasaan yang luar biasa
Terasa ingin dekat dengannya
Terasa ingin kenal dengannya

Semalam…
tidurku tidak lena
Kerana terlalu mengingatinya
Jiwaku rasa memberontak

Pagi ini…
Masih lagi aku terasa
Tetapi..ku tidak tahu bagaimanakah caranya
Untuk mendekatinya..
Ingin ku khabarkan pada bonda…
malu rasanya…
Adakah aku jatuh cinta buat kali yang ke-2?

~CtShuhadah~

Ya Allah,
Berilah aku kekuatan dalam menghadapi ujianMu.
Berilah aku petunjuk dan hidayah agar aku tidak sesat.
Terangilah jalanku dengan cahayaMu.

Ya Allah,
Jadikanlah aku orang-orang yang kuat dan sabar dalam melayani kehendakMu.
Jadikanlah aku orang-orang yang redha atas sesuatu perkara yang menimpa.
Jadikanlah aku setabah para utusanMu ketika mereka sedang berjihad,
hingga akhirnya mereka menang memerangi musuhMu.

Ya Allah,
Berikanlah berita gembira buatku,
dan buat mereka yang sentiasa sabar dengan ujian yang menimpa.
Bukakan mata hati dan mata batinku agar bisa memahami
hikmah yang Engkau turunkan.

Ya Allah,
Jadikanlah aku hambaMu,
yang bersyukur atas nikmat dan rahmat yang Engkau kurniakan.
Hindarilah aku daripada menjadi orang-orang yang lalai dan
hindari juga aku dari menjadi orang-orang yang fasik.

Ya Allah,
Janganlah Engkau putuskan nikmat yang Engkau berikan padaku.
Pimpinlah aku agar terus berada di landasanMu yang benar ini.
Pimpinlah aku menjadi wanita soleha dan baik budi serta akhlaknya.

Ya Allah,
Ampuni segala dosa yang telah aku lakukan.
Berikanlah aku kejayaan di Dunia dan di Akhirat….

Amin….


*Myelina Tashiro

Tak pernah tak ada wangimu
memberi cahaya pada kamarku
yang disenandungi rindu
tak pernah tak ada warnamu
menakung bayu memberi baru
yang menyelimutkan bahang syahdu

Ini tak hanya puisi
kujanakan makna dalamnya
melebur dalam kalbu
tak pernah mengalih arah
menyatu dalam rindu
yang tak siapa menyertainya
walau tak siapa menafikannya

Meski harus memelihara
dalam jelaga yang hanya kita memutihkannya
dalam selimut suci sebersih hati warna dan wangimu
menjadi milikmu jua
yang menghiasi kamar diri

Sambil kita menanam benih peribadi
setia seumpama embun
agung seumpama cahaya mentari
melewati hari demi hari
merestui
akrab umpama kuku dan isi…

Sesungguhnya kita adalah para pemudik yang suka lupa
Maka jika lautan masih menyala, mendayunglah sekuat
tenaga
Jangan menunggu senyap apalagi gelap menghiba
Tanpa haluan tergambar jelas jalan pulang pasti gulita

Sesungguhnya kita adalah pemudik dengan nasib secarik
kertas
Sejauh mana memandang hidup jangan sampai menjadi
getas
Tersandung batu terhempas badai, rahasia Tuhan harus
kita retas
Berpayung zikir bersayap tawaddu, dengan Bismillah
maju menderas

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya tanpa
penawar
Kita sudah pasti pulang dengan bekal yang siap di
takar
Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah
mawar
Sesungguhnya segala amal tak bisa lagi menjadi
pencahar

“Maka beruntunglah mereka  yang pulang berbekal amal”

Serambi Mekah, 23 Februari 2008

Dino Umahuk: metafora birahi laut
www.birahilaut.multiply.com

Tangan yang menengadah dengan balutan iman
Adalah lembar-lembar doa yang melesat ke tiang Arsy
Bila zikir kau sematkan ke kaki langit
Guguran airmata petanda cinta akan tersulam sebagai
cahaya

Lalu nikmat mana lagi  dari rahasia Tuhanmu yang kau
ingkari
Kau mengumpulkan berton-ton kekebalan hanya untuk
tenggelam
Seolah perahu nasib bisa terbang melintasi waktu
Padahal lautan adalah awal dan akhir kehidupan jika
kau tahu

Maka sesungguhnya tiap-tiap yang hidup akan mengalami
mati
Dengan jalan apa menuju kemana ini tentu sebuah
pilihan
Kepada kita di beri akal semestinya ia menjadi sinar
Ke arah mana jalan pulang harus menuju

Serambi Mekah, 23 Februari 2008

Dino Umahuk; Metafora Birahi Laut
            www.birahilaut.multiply.com

Bila, aku sudah tiada
Simpan semua lagu ku
Jangan di tangis selalu
Mungkin, itu sementara
Bila jumpa pengganti ku
jangan di lupakan aku
Pagi itu indah seperti biasa
Tidur yang lena terhenti di sana
Layap kuyu masih tak terdaya
Bukalah tingkap mu
Curahkan cahaya…
Siapa yang sangka
Bila tiba masa kita
Untuk pergi selamanya
Takkan terduga
Jika saat ni
Tuhan tentukan
Aku lah orangnya
Gelak tawa tangisan yang hiba
Kenangan kita masa di dunia
Alangkah indahnya jika
Kita mampu hidup selamanya…
Di kirim oleh: Blackcrv Sha

Sekeranjang Sampah, Seranjang Sumpah

aku mendambakan pagi semenjak kucium aroma rambutmu sehabis keramas. aku mendambakan rumah dan pekarangan dan pohon rambutan dan bau tanah basah. aku membayangkan setiap pagi mengosongkan sekeranjang sampah yang lelah seharian menampung limbah resahku, membuangnya ke lubang kompos di pekarangan belakang. aku mengenang sajak-sajak yang hilang, sejak uban dan lahat mulai membayang.

di ranjangku, bau wangi sabun cuci dan aroma cinta menguar dari sprei yang baru diganti. di sana kukumpulkan remah-remah mimpi yang kau tinggalkan semalam, juga sumpah serapah dan janji-janji. kadang-kadang kutemukan pula sumpah suci dari langit, sejak aku mengenal samadi yang kukaji dari sela-sela gigimu.

di seberang jendela, cuaca masih memijah telur-telur katak. langit sempoyongan sebagaimana terbaca dalam liukan bayang-bayang. mentari bermalasan sepanjang hari, hibernasi akibat letih terbakar api dalam diri. inilah cuaca yang tak kusuka, bikin ranjang kian gigil saja. aku hanya bisa menebah-nebah kasur yang beku, berharap rontok sampah serapah dan limbah gundah sisa abad-abad yang lalu.

demi ranjangku aku bersumpah menempuh jalan yang takkan kusesali. tetapi pagi masih dini, hujan belum lagi pergi. dan di dapurku masih menunggu sekeranjang sampah, penuh hasrat dan mimpi-mimpi basi.

pada tiup mesra angin dipungut waktu
Satu jengkal hati menuju langit
mungkin senyummu sayang di balik mega
menyambut pagi ceria serupa matahari

tapi hatiku tetap menyukai kesunyian
melukis bunga bidadariku di helai udara
kuceritakan padamu tentang Kisah tlah lewat
Tentang Cintaku pada seorang dara jelita

bahagialah Aku kini ada yang merindukanku
pada waktu lalu tercatat nama terpahat wajah
bahagialah aku kini ada yang mencintaku
walau terkungkung aku dalam bayang lalu penuh kasih sayang

Pada bibirmu cinta apa yang terucap
doa atau keinginan menjadi Sejati
marilah, marilah masuk kedalam hati ku cintaku
pahatkan indahnya cinta mu dalam hatiku

itulah cinta begitu merahasia
tak dapat diterkakemana menyuka
Biarlah lebur semua lalu dalam doa
menerima takdir sebagai suatu keihklasan hati

Depok, 13 February 2008
Erwin Arianto


Best Regard
Erwin Arianto,SE
¤¨¤ë¥¦¥£¥ó¡¡¥¢¥ê¥¢¥ó¤È
———— ——— ——— ——-
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY

perahu kecilku kini ditengah badai
terombang ambing dalam rasa dan kenangan lalu
berapa lagi jeram kenangan harus diarungi
berapa lagi gelombang ingatan harus dihadapi

berapa jauh lagi ingatan ini akan menghantui
seperti kerling mata, atau senyum terluka
memberi berbagai tanda tentang hati yang meluka
dan kuhentikan pelayaran cinta lalu ku ini

betapa pada keluasan samudra ini dan  kecipak air
remang cahaya mengundang gerimis mengiris
angin menampar-nampar pipi menyadarkan aku dari mimpi
kabut memutih lukisan tentang engkau yang telah pergi

ada yang tersayat begitu dalam oleh keinginan itu
ada yang tersayat begitu dalam di hatiku
biarlah kini kau pergi dengan luka yang tertinggal
nyatanya belum juga aku bisa melupakan cinta itu

cukupkan sampai di sini semua ini
sudah habis waktu ku dan hentikan semua ini
helai demi helai terbuka rahasia demi rahasia
Kurayakan pesta kemenangan merayakan kekalahan diri
karena aku lebih berhak atas diriku sendiri

Depok, 13 February 2008
Erwin Arianto

Best Regard
Erwin Arianto,SE
¤¨¤ë¥¦¥£¥ó¡¡¥¢¥ê¥¢¥ó¤È
———— ——— ——— ——-
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY

diana izatti <dianaizatti@ yahoo.com> wrote:

aku rindu guraumu
aku rindu tawamu
aku rindu suaramu
aku suka semangatmu
bebas tapi tegas
tak sangka
hariku sepi
tanpa hadirmu…

“yang benar dan hak itu datangnya dari ALLAH, yang lemah dan sering khilaf adalah kita makhlukNya. Tiada yang lebih hebat daripadaNya di muka bumi ini kerana kembali kita kelak kepadaNya dalam fitrah yang sama; hamba.”
Zachary Vearn <zachary_vearn81@ yahoo.com> wrote: sesungguhnya berat ujian itu
terasa kosong nilai hidupku ….
inginku kembali kewaktu itu …
saat aku masih bersamamu …
namun kuharap kuasa yang esa…
tabahkan hatiku seperti dia ..
agar sepanjang waktu ini ku bisa …
menahan rindu yang amat sangat padanya ….
diana izatti <dianaizatti@ yahoo.com> wrote:
pak cik Zach..
it is time
to let him go
without tears
with love in heart…
it is just the
perfect time..
miss him so much!

Mengelilingi sejenak waktu yang padam
Mendesahkan penantian alur scenario
Penatkan pergantian serona hari
Mengawal penentuan sejarah diri

Sang waktu telah merogoh sangat dalam
Mengesakan suatu kisah perjalanan
Terpotong oleh takdir yang mengintip
Memaksa mendekami sejumput hati

Apakah serusuk tulang telah dipahatkan
Atas sesosok diri yang mengelayut
Setitik asa yang mengema diantara resah
Telah menutup kepekaan akan takdir


Regards,
Hapsari Wirastuti Susetianingtyas

Sejenak setetes hujan masih saja menghukumi bumi

Angin pun terasa mengoceh menerpa serumpun dedaunan

Menerbangkan helai demi helai daun yang telah meranggas

Rumput yang mengering ikut serta menarikan tarian hujan

Cawan-cawan yang tertelunggup memantulkan kembali tetesan

Hujan belum reda saat sang dewi menelungkupkan cawan

Sayapnya yang menggantikan cawan itu agar air tidak menetes ke bumi

Huhhh…sungguh dingin menerpa diri, saat hujan mengaliri raga

Bertahan mendustai segenggam keharusan yang menghantui

Mencoba dan terus mencoba menggelayut diantara badai

Sampai pada titah pencipta menghempasnya jatuh

Sungguh oh pencipta ruh…napas belum dihembuskan

Sayappun masih mengelantung membebani jasad

Mimpi sejenak yang terlintaspun belum terlukiskan

Haruskah larian ini dihentikan??

Saat bumi belum menemukan sesosok penjaga

Sesaat kemudian tangisan itu terhenti

Kembali sang surya mengintip dari sisa mega

Mengusap sayang rintik-rintik hujan

Tersenyum membentuk lengkungan indah sang pelangi

Dan sang dewipun masih tertunduk menghujat sepi

Berucap kembali kepada pemberi jasad

Bila detik memang telah berhenti memutar hari

Bila penjaga bumi adalah bukan yang ditemui

Saatnya untuk menerima pahatan rusuk yang menanti

Takdir diri akan terpenuhi dengan putaran yang terhenti

Karena terus berjalan adalah keharusan yang tlah terpatri

Bukan untuk menegok kembali kisah yang telah menjadi sejarah diri

--

Regards,

Hapsari Wirastuti Susetianingtyas

wahai bulan..
merajukah dirimu
tidak lagi hadir bersama malam
dan bintang bintang juga menyepi
mebiarkan angin malam begitu sejuk
dan alam begitu pekat

wahai bulan
dimanakah sinarmu
melenyapkan bintang bintang
ada ugas menanti
ada kelawar menunggu
untuk bersama mehiasi malam

wahai bulan
adakah angin sejuk ini utusanmu
mengatakan luah hati sedih
bicara cinta yang telah mati
pergi bersama awan semalam
memekik menangis sehinga fajar tiba

wahai bulan
pekatnya malam
sehingga hilang nyayian alam
yang tenang dan medamaikan
kerana bintang-bintang juga bersedih
hilang tidak bersinar

Pencinta  penulisan
Syed Badrul Hisyam Alhaddad
 http://alhaddads.wordpress.com
join saya (klip sini)

Re: Bulan

wahai malam..
kenapa mesti menyoal rajuk si bulan?
sedangkan selama ini dia peneman sejati
tidak langsung kau memandang..
apa tah lagi memerhati…
jua lebih lagi kau menghargai..
hanya sedetik dia menyepi ..
kau mencari …

wahai malam..
sabarlah menanti
kepulangan bulan dlm pertapaannya
mencari kembali hakikat diri
mengaut sisa² yang ada
untuk menemani kembali malam yg gelap..
semoga nanti kau akan mengambilnya
dan meletakkan dia di tempat yg sepatutnya…
😀

Oney

malam dan siang mewarnai hidup
bersama bulan dan bintang yang sering merajuk
dan burung pungguk suka menyorok
dan embun kala siang tak sempat menjejak bumi
kerana dipeluk mentari
dan aku  sedia setia
menunggu kiamat bila-bila.

lala_dua dua <laladua_dua@yahoo.com

embun yg bersahabat dengan malam
tidak putus-putus menghiburkan kesunyian alam
berjuang berkali-kali bangkit
tidak kan dengan sia malam kontang kekeringan
embun yang mula memberi salam
sebulat suara berlalu bersama malam
membiarkan bumi di mamah sinar terang
supaya menjelma lagi keindahan ciptaan Tuhan
aku.. yang setia bersama kegelapan
meniti hari ini bersama seorang pencinta penulisan
tidak menyedari ..kan sambutan laungan azan
tanda fajar telah berlalu…dan
hari baru bermula dengan 2 rakaat sembahyang..
selamat datang hari baru ku..
semoga lebih baik dari semalam dan sebelumnya..
-oney-

di satu ruang kehidupan
seorang tua camping berpakaian
entah berapa lama tidak berganti
hanya berteman tasbih tua

tidak pernah meminta kekayaan
tidak pernah bertanya nilai diri
tidak pernah persoal akan keadilan
pada maha tuhan yang mencipta

makan nye laju, minumnya pantas
lalu satu hari ada hamba allah bertanya
mana dirimu ingin pergi, apa sebenar yang kau cari
makan dan minum mu tak bersempat
dalam nada penuh kesedihan beliau menjawab
aku tak mahu masa yang aku ada dipersiakan
selain dari menyebut nama allah..
dan yang aku cari hanyalah keredhaan allah

alhaddad

MUSAFIR DI ATAS SEJADAH

Dia memohon seribu kemaafan
Sewaktu terjaga dari buai mimpi
Menangis dia dalam kegelapan
Mencari jalan menuju ke firdausi

Dia bertanya tentang kehidupan
Tentang hari bernama kematian
Di manakah hina dan mulia insan
Selagi belum ketemui MahaTuhan

Dia musafir yang tak pernah tewas
Menuntut keadilan tanpa sempadan
Meminta bukan bererti dia pengemis
Kerana itulah janjinya untuk mati

Diatas sejadah dia menyerah dan meminta
Secebis nilai diri sebagai seorang hamba
Sebelum kematiannya menjemput kesana
Semoga ketenangan menanti dia disana

MarjanS
POS MALAYSIA
marjanspuisi@ yahoo.com. my

SUARA DARI PERUT-PERUT LAPAR

Kami diantara engkau bernama aku orang bawahan
Bakal pada satu hari nanti menjerit dipinggir jalan
Bila tak tertanggung lagi mengunyah enak kelaparan
Walaupun kami masih terdaya teruskan perjuangan

Jiwa kami telah sekian lampau tak lagi berkunci
Pasti kekerasan bakal memberontak satu hari nanti
Usahlah kau anggap segalanya bermaksud kejahatan
Kerana selagi nama manusia kami perlukan keinginan

Dalam perut kami tiada lagi nikmat kekenyangan
Telah kami korbankan dalam ertikata perjuangan
Sedikitpun kami tak pernah dilontarkan terima kasih
Kerana sekian lampau kehadirandiantara kami disisih

Ini adalah suara luka dari jendela rumah kebenaran
Tercipta dari mulut anak-anak kecil sedang kelaparan
Memaksa kami meronta dan terus meminta pembelaan
Sebagai warga manusia marhain memerlukan keadilan

Lihatlah kami walaupun dari sudut mata mulia itu
Tentang berat pundak kami menanggung sengsara ini
Atas nama tuhan kami tidak meminta limpah kekayaan
Kerana kami tidak pernah bermimpi menjadi seorang tuan

Marjan S
POS MALAYSIA
DAYA BUMI 2008

SUARA-SUARA JALANG

Seorang lelaki dilorong jalang
Melamar cinta dengan nafsu kuda
Buat para kuda betina gersang
Tercipta dari kekecewaan cinta

Suara-suara jalang syahdu bergema
Lembut memanggil jantan celaka
Katanya temanlah aku keranjang dosa
Mengubat cintaku dulunya kecewa

Usah kau kuatir tenatang benih hina
Tak akan aku relakan kandungkan dia
Menjadi saksi dosa-dosa diantara kita
Aku tak rela dia lahir menjadi mangsa

Katakanlah rumah tua ini syurga kita
Persinggahan untuk menuju keneraka
Tanpa sebarang sedikit rasa kecelakaan
Kerana aku betina jalang mencari makan

Kuda gila memacu dalam suam malam
Katanya aku ingin puas sebagai jantan
Suaranya tenggelam dalam erang jalang
Demi memancutkan keruh-keruh dosa

Syaitan berkata penuh keangkuhan
Mereka telah menjadi sebahagian aku
Semoga pintu-pintu taubat tertutup rapat
Selagi dunia belum ditimpa hari kiamat

MarjanS
SUNGAI PETANI
FEB 2008

MAKAM PERTEMUAN

Perpisahan tercipta tanpa kita duga
Bukan dengan kerelaan dari jiwa mulia
Kau pergi menyambut salam impian
Aku pergi menyambut salam perjuangan
Maka terpisah kita antara dua jantung kota
Tanpa adanya secebis ingatan dan kerinduan

Perpisahan kita diiringi dua parut luka
Tanpa sebak didada dan linangan airmata
Luka di kanan kakimu ¨C di kiri mataku
Kadang-kadang kita terlupa tragedi itu
Mungkin kita cemas dilambung ombak
Atau kita sedang menghukum kenyataan

Hari ini ditaman zaman kita bertemu jua
Bersaksikan makam-makam insan tercinta
Di pagi dingin dan pohon-pohon komboja
Dan langit tersenyum menumpang gembira
Kitakah itu seperti insan dilahirkan semula
Besertakan roh cinta dan nafas-nafas luka

MarjanS
POS MALAYSIA
marjanspuisi@ yahoo.com. my

LAILI DALAM KENANGAN

Di ambang senja seusia maya remaja
berdua kita menatap segar guris luka
dalam tangis kau menahan pedih rasa
namun kau cuba menyembunyikan jua

tanpa diduga kita ¨C lahirlah jiwa cinta
urip selagi belum ketemu ajal maha esa
terciptalah ikrar janji setia di asmaraloka
selagi keikhlasan sudi ujud di dalam dada

syahdu nama mu Laili selembut wajah ayu
sepi hidupku Laili tanpa aku mengingati mu
rembulan berwajah seri pungguk setia menanti
inikan pula sesetia sumpah cinta kita pada janji

biar pun terpisah antara dua laut biru
rela ku seberangi jua kerana mu Laili
selagi aku tak ketemui di mana dikau
tetap ku mencarimu hingga hayat nanti

bukan aku tak sudi terus bersama mu di sisi
menenun permaidani cinta ¨C memintal pasti
demi masa depan agar kita saling berkorban
semoga mengukuhkan lagi mahligai impian

nyata setia kita dipayungi takdir maha esa
kau pergi tanpa secebis nota khabar berita
hanya termampu aku membena pusara cinta
di sudut hati ini yang semakin parah lukanya

MarjanS
Kota Kaca
2006

angin itu berbisik
suara yang kau tinggalkan
ombak yang kelam
dasar laut yang dalam
mungkinkah terhapus kesedihan
ku tenun sekilas angan
dalam rintik hujan gerimis
yang kau gantungkan
pada serumpun dahan
dan kini jadi mainan angin…
yang nyata di tanganku
ada secangkir kesedihan..
bisik hati kecil ini
kalau mampu
biarlah angin itu
membelai mesra
tiap helaian rambutku..
sesungguhnya puisi ini mirip keluh
samar… sekaligus nyata!

“diana izatti” <dianaizatti@yahoo.com>

“yang benar dan hak itu datangnya dari ALLAH, yang lemah dan sering khilaf adalah kita makhlukNya. Tiada yang lebih hebat daripadaNya di muka bumi ini kerana kembali kita kelak kepadaNya dalam fitrah yang sama; hamba.” 

raonah jhr <raonah_jhr@ >

pinjamkan aku telingamu
untuk menampung darah beku
yang ternoda duka
di perigi hati
ceduklah kepedihan yang bertahan
menjadi racun bertahun terhimpun
tak kuasa lagi menahan bisa
lara dalam gelora.

mod:
kenape sedih mjentik halwa
sedangkan memandang pelangi asmara
……

[Cerpen_Puisi] kalah sudah,,,, [LANJUTAN]

raonah_jhr <raonah_jhr@…> wrote:

wahai mod,
peka meminjamkan telinga
tersandung sedih duka menjentik halwa
asmara pelangi bercabang nurani
izin dalam paksa akur dan tafakur
hati hancur rela terkubur
demi ilahi ku berbakti.
kalah sudah [LANJUTAN],,, [BALASAN]
alhaddad:

>
asmara pelangi bercabang nurani
izin dalam paksa akur dan tafakur
hati hancur rela terkubur
demi ilahi ku berbakti

apakah maksud katamu ini
bukankah kewajipan kita sebagai hamba
memenuhi tuntutnya dulu sebelum melata
menupah keringat di permatang dunia

[Cerpen_Puisi] kalah sudah [LANJUTAN],,, [BALASAN]
raonah_jhr <raonah_jhr@…> wrote:
asmara pelangi bercabang nurani
mengertilah wahai Alhaddad yang bijaksana
belahan jiwaku menduakan cinta
demi ilahi
biar hati pecah terbelah hancur lebur
dan airmata kian bertabur terhambur
ku tolak ke tepi
kerana mengejar rhedo ilahi
ku pasrah berbakti.
Re: kalah sudah [LANJUTAN],,, [BALASAN]
mod :

laksana mencurah air di kali
membawa maksud dari hati yang sepi
di cetak kata mengejar redho Ilahi
tetapi kenapa bagai meluah keluh berpati
andai ingin menjadikan ia realiti
biarlah benar dari hati
bukan dari duka yg menjengah melewati
hari² mu .. wahai roanah_jhr..

Re: kalah sudah [LANJUTAN],,, [BALASAN]
alhaddad:
maaf di minta dari empunya diri
hamba musafir menumpang lalu
sekadar singah mehilang lelah
kenapa harus berbagi cinta
bukankan cinta itu hak pada pencinta
kita hamba sekadar menumpang
diana izatti <dianaizatti@…> wrote:
aku di sini menunggu
angin yang berhembus
berlalu tanpa pesan
darimu..
hatiku terdiam
rindu yang terpendam
terangi gelap malam
hari-hari ku sepi
tanpa mu….
“yang benar dan hak itu datangnya dari ALLAH, yang lemah dan sering khilaf adalah kita makhlukNya. Tiada yang lebih hebat daripadaNya di muka bumi ini kerana kembali kita kelak kepadaNya dalam fitrah yang sama; hamba.” 
[Cerpen_Puisi] hari itu..,,, [BALASAN] Zachary Vearn <zachary_vearn81@…>

Aku amat bersyukur padaNya
kerana aku hanya manusia biasa…
terasa hati ku ingin berbicara …
terus menerus kepada yang empunya ….

namun takdir bukan urusan kita ….
hanya berserah kepada yang maha Esa..
agar kita kembali bersama ..
walau hanya diruangan cyber…

hehehehehehehe

Re: [Cerpen_Puisi] hari itu..,,, [BALASAN]
diana izatti <dianaizatti@…> wrote:
hari itu..
ku susuri jejak
alur yang berliku
penuh berduri
belukar hitam berselerak
lumpur menutupi setiap tapak
aku jadi sebak…
hari ini..
angin yang berhembus
mengasyikan.. mendamaikan
aku lebih berhati-hati
pak cik Zach..
tunjukkan arah tuju yang pasti..
terima kasih daun keladi!
hari itu..,,, [BALASAN]
 syed badrul hisyam alhaddad <badsyam77@…> wrote:
hari ini..
angin yang berhembus
mengasyikan.. mendamaikan
aku lebih berhati-hati
pak cik Zach..
tunjukkan arah tuju yang pasti..
terima kasih daun keladi!

aku hanya nelayan
yang kebetulan singah
setelah pulang dari laut
mendengar bisik bicaramu
ingin menyapuk meluah kata

angin itulah yang menolak ombak
angin itulah yang buat laut bergelora
angin itu jugalah yang membawa layar pada dermaga
angin itulah yang buat kami juga berhati-hati

Re: [Cerpen_Puisi] hari itu..,,, [BALASAN]
 diana izatti <dianaizatti@…> wrote:
oh, ada kelip sampan
nelayan itu
sesat di kelam
mengejar ombak
ceroboh igauanku..
wahai nelayanku
angin itu bertiup ramah
deru ombak menghempas tebing
pasir-pasir berdesir
indah daun-daun menari
aahhhh.. damai sekali
ayuh kita berhati-hati…
Re: hari itu..,,, [BALASAN]
oney <suriani.mohamad@…> wrote:
mod : biarpuun .. nelayan di hempas berkali²
dan singgah untuk kali yang ke berapa
walau beronak pantai ditemui..
namun mengapa ke laut jua perginyer?…
Re: hari itu..,,, [BALASAN]

syed badrul hisyam alhaddad <badsyam77@…> wrote:

wahai mod yang bistari
umpama lebah yang mencari madu
walau pnuh satu tempayan
namun tak pernah jemu menodai bunga
begitula hamba sebagai nelayan

Re: hari itu..,,, [BALASAN]
oney <suriani.mohamad@…> wrote:]
jauh menyimpang sampan tuan
mungkin kerna kompas yang rosak
atau tersasar penangan ombak
mungkin jua..tuan seorang
nelayan yang pencen
terlupa dimana patut berlabuh..
😛
mabuk laut..
hahahaha…
Re: hari itu..,,, [BALASAN]
syed badrul hisyam alhaddad <badsyam77@…> wrote:
wahai mod yang suka bersoal
tidaklah hamba jauh menyimpang
yang hamba kata adalah benar
umpama ombak medambar pantai
yang tak pernah jemu walau sesaat
kalau hamba nelayan pencen
masakan hamba dapat pulang ke rumah
Re: hari itu..,,, [BALASAN]
oney <suriani.mohamad@…> wrote:
saya bukan suka bersoal
cuma mahu mengikat sampan tuan jika tersasar
biar bersama merempuh air pasang dan angin laut
kembali pulang ke jejak asal..
.. jejak daratan itu.. tempat kita bersama…
[Cerpen_Puisi] hari itu..,,, [BALASAN]

“lala_dua dua” <laladua_dua@yahoo.com>

ingin aku menjadi nahoda
lajulah wahai sampan yang membawa mod dan haddad
bersama angin utara
patah dayung ku harung jua
mengejar kehidupan penuh gelora
pusing arah selatan wahai sampan
jangan tempuhi ombak yang telah memukul aku
dalam kemelut rindu.

Jemariku sudah tak kuat lagi  menahan kemudi
Untuk berlayar menuju pantai darimana tangis melunglai
Cuaca yang meradang pada hujan timur musim mimpi
Meleparkanku pada derasnya lelehan airmata warna api

Lalu sepayung puisi paling pelangi kau tancapkan di
batas pasir
Dengan selendang berwarna getir berharap cinta tak
lagi sumir
Tapi angin tak juga semilir karena musim terus
bergulir
Mungkin ini palayaran paling tubir yang disebut takdir

Tapi entah untuk apa kau terus saja memesan rindu
Dari  matamu yang setia menunggu dengan bisu
Padahal  jejak di pembuluh sajak yang dulu kita buru
tak lagi menderu
Mungkin ini yang disebut takdir palayaran dari sajak
paling biru

”Barangkali kita perlu memahat segalanya pada batu
biar tak beku”

Banda Aceh, 15 Februari 2007

Dino Umahuk: Metafora Birahi Laut
www.birahilaut. multiply. com

Dilema Anak Kecil

Dalam keadaan dilema,
berdiri seorang anak kecil
berbaju lusuh
berbau hapak
di tengah-tengah kompleks membeli-belah,
menadahkan tangannya
meminta diberi simpati…
akan nasib
yang menimpa dirinya.

Hatinya berdetik lalu berbisik,
‘Sekadar sepuluh sen dua pun cukuplah,
sekurang-kurangnya……
ada sesuatu dapat ditunjukkan’.

Dalam kegelisahan itu,
reaksi ibu dan ayahnya
berlegar di kotak fikiran,
di telinga terngiang-ngiang
kata-kata menghiris hati
‘Kau anak tak guna,
Tau makan tak tau kerja
Pergi kau dari sini’.

Rintihan hati menggores sepi,
air mata berlinangan
membasahi pipi,
Hatinya seolah-olah merayu,
‘Ayah dan ibu tersayang,
Aku telah cuba dapatkan sedekah
kenapa aku masih diseksa??’

by: sharifah azie

Bak kata mu hari semalam
Telah pun sampai masa kita
Mencari yang hakiki di dunia
Bekalan untuk akhirat
Bagai penghapus dosa lampau
Yang tidak terhitung akan balasan
Dan hukuman dari Tuhan

Bak kata mu hari sudah
Mahu mencari yang sanggup menyayangi Dia
Untuk sentiasa berada di Nur kasih sayangNya
Bersama sepenuh jiwa raga mengadap Pencipta

Bak kata ku hari semalam
Kita telah lama sangat leka
Asyik dengan permainan dunia yang kian tua
Penuh kotoran yang tak mampu di hakis
Semakin rakus dan memanggil-manggil jiwa

Bak kata ku hari ini
Mohon sesama kita mengingati
Menegur demi memperbaiki
Terus meniup sinar islami
Agar semakin kukuh tujuan kaki

Bak kata kita
hari ini dan esok selagi nafas bernyawa..
‘sampai.. sudah masa kita ..
Kita harus berhijrah dari situ
Dan jangan menoleh lagi…’

Berkati lah kami ya Allah..
Sambut lah huluran kami…
Amin..

-oney-

— In Cerpen_Puisi@yahoogroups.com, LanunSerbia <ctekito@…> wrote:

Bertemu dan berpisah
suatu ikatan yg saling tak tumpah
umpama air di dalam kolah sawah
tanpa air, kolah kontang bersawang
tanpa air , sawah padi pasti tak riang
kerbau tak akan turun berkubang
anak petani mati kelaparan

Bertemu dan berpisah
umpama langit dan bumi
saban hari terketemu
saban dinihari terpisah
maka adakah itu masih sebuah persimpulan ..
jika hati jadi ukuran pasti kemdian ketemu lagi
pasti tak akan ku tunggu lagi
kerna nanti pasti ketemu jua lagi
walau dalam cuaca 7 musim yg berlainan
pasti gerak rentak gemalai terungkai
walau nafas dan badan beredar zaman

Tak akan ku kenang tanda abadi
tak akan ku kota tanda sejati
setiap ketemu pasti diakhiri
setiap perpisahan pasti kembali..
sebagai permulaan dipenghujung jalan…
akan ku kandung sampai mati….
inilah sumpah keramat sakti
Janji padu ku pada Ilahi..

Sauh  berlabuh di dada mudik
Yang  ditinggalkan mengejar hebat
Esok atau lusa mungkin bertamu
Di tengah gentir keganasan gelombang

Beraksi helang dan camar di hujung layar
Angin dan badai bertiup tampa mengenal arah
Dan gelora bagai jerung mebahang mangsa
Rakus merobek  sisa-sisa harapan
Untuk berlabuh pada dermaga impian
Lambaian duyung di sisir pantai

Hanyut harapan bersama badai
Ibarat bahtera tampa nakhonda
Susur lautan tampa petunjuk
Yang kian lelah dilambung ombak
Akhirnya karam ke dasar lautan
Mati dalam impian dan angan-angan

karya asli: alhaddad

Dua Dalam Bahtera
Artist: Waheeda

Dari setiap pasangan dua
Maralah ke dalam bahtera
Yang dibina sekian lama
Dengan izinnya Maha Kuasa

Dia disangka orang yang berdusta
Dia disangka orang yang gila

Hingga hari terbongkar segalanya… ..Nuh…Nuh. .Nuh

Kau telahpun diberitakan
(tentang hari yang akan datang)
Kau telahpun diperingatkan
(tentang hari yang telah datang)

Kini jalan keluar tiada
Hujan yang turun tiada reda

Tenggelam kini segalanya
Tenggelam kini segalanya

Seribu tahun illa lima puluh
….Nuh…Nuh. ..Nuh

Duhai anak kemana nak pergi
(ingin mendaki gunung yang tinggi)
Duhai anak tiada dapat kau lari
(tetap mendaki gunung yang tinggi)

Duhai anak kembali ke sisi
Hari ini tiada dapat kau lari

Duhai nabi anakmu bukan ahli
Biarkan saja dia pergi

Selamatkan dari bencana ngeri
….Nuh…Nuh. ..Nuh

Ketentuan – Ramlah Ram

Tak semudah kau sangka
Melepaskan kau pergi
Hati yang meronta, hampa kecewa
ku tekad sembunyikannya dari pandanganmu
Ku rela begini

Berakhirnya di sini
Dari bersamamu terus berpura
Setelah cinta tiada lagi di hatimu

Chorus
Ku hapuskan airmata dari mengiringi
Kesengsaraan mengharung perpisahan ini
Ku pujuk jiwa nestapa
Pendamkanlah duka
Pasrah pada lara ketentuan ini

Tak semudah kau rasa
Melepaskan kau pergi
Hati yang terluka dikunjung jua
Kerinduan yang tidak tertanggung terhadapmu

*Bridge

kiriman:  “honey elyanie”
Sesungguhnya
Ku tahu betapa sukar untukku
Menempuh hidup
Walau sehari tanpamu
Ku terseksa
Relaku menunggumu seribu tahun lama lagi
Tapi benarkah hidup aku akan selama ini
Biar berputar ke arah selatan ku tak putus harapan
Sedia setia

Relaku mengejarmu seribu batu jauh lagi
Tapi benarkah kaki ku-kan tahan sepanjang jalan ini
Biar membisu burung bersiulan terlelah gelombang lautan
Ku masih setia

Adakah engkau tahu… ini cinta
Adakah engkau pasti… ini untuk selama-lamanya

Relaku menunggumu seribu tahun lama lagi
Tapi benarkah hidup aku akan selama ini… yeah…
Biar berputar ke arah selatan ku tak putus harapan
Sedia setia

Jangan putus harapan… sedia setia

DownLoad HeRe

kiriman: “honey elyanie”

Desiran daun dihembus angin
Tin kosong dan tong golek ke kaki
Membelah sunyiku

Menonton bayang wajahmu di minda
Kala ku sendirian terpisah jauh
Bererti tanpamu

(Bridge)
Babak penantian
Satu ujian
Sekuat mana cinta

(Korus)
Ku tak mungkin
Kalis rindu
Kalis pilu
Bila kau tiada
Semakin
Pendam rindu
Pendam pilu
Hingga kau menjelma ah au…

Berdiri di tingkap merenung ke luar
Lihat kekasihku yang basah berjalan dalam hujan
Berserta senyuman
Lama ku nantikan

(Ulang bridge & korus)

Sekian detikkan waktu berlalu
Di alam berkasih
Menjadi rakaman yang berharga
Tak terharga yang berharga

kiriman:  “honey elyanie”
merana kini aku merana
kekasih tercinta
entah kemana
sendiri kini ku dibalut sepi
tiada tempat tuk bercurah lagi

dimana kini entah dimana
bunga impian
yang indah dimata kurindu tutur sepamu
nan saat kau barada disisiku….
kini tinggallah kusendiri
hanya berteman dengan sepi
menanti dirimu kembali
disini ku terus menanti
akan kucoba untuk
menanti dirimu kekasih

oh bunga….
dimana kini kau berada
jangan biarkan diriku
dalam kesorangan

oh bunga…
jangan kau gores luka didada
sunguh diriku takkan kuasa
campak kan kenanga
ho ho ho….

kiriman: “honey elyanie”

Ajari aku berjalan dalam Jalan lurus Mu,
Ajari aku melangkah dalam kehendakmu Mu,
Ajari aku menjalani Hari-Hari bersama dengan Mu,

ya Allah… Aku tak tahu jalan ini, bila mana aku berjalan, di sekeliling Ku penuh dengan kegelapan, Ku perlu pimpinan tangan Mu, untuk Ku bisa melangkah Dan berjalan Dan tahu arah tujuan yang pasti.

ya Allah…aku sering terjatuh kerana batu-batu yang tak Ku lihat kerana kegelapan ini, sakitnya luka itu ya Allah…namun tangan Mu menarik Ku lalu membersihkan lukaku serta membalutnya.

ya Allah…aku sudah tidak kuat lagi, aku tidak bisa melihat di dalam kegelapan ini.

Betapa banyaknya luka-luka mengarungi perjalanan ini, bekas luka-luka yang lama berdarah kembali karena kerikil-kerikil yang tajam ini. Aku tersungkur.. ..tanpa Ku sadari air Mata  membasahi kedua belah pipi Ku…Ku coba bangkit Dan melangkah namun aku tidak mampu…

ya Allah…masih jauhkah perjalanan hidup ini? Aku sudah tidak kuat lagi ya Allah.

ya Allah…..aku berteriak bersama dengan tangisanku.

Tiba-tiba… .Ku dengar suara lembut Dan sayu berbisik didalam hatiKu….”inilah sebuah perjalanan hidup, terkadang engkau akan jatuh Dan bangkit, jatuh Dan bangkit Dan jatuh lagi sehingga luka-luka lama mu akan berdarah kembali…. Lihat, meskipun disekeliling mu penuh dengan kegelapan namun kamu tidak tahu sebenarnya di hadapan mu itu Ada terang yang menanti, Aku membawamu ke tempat yang gelap ini dengan maksud Dan tujuan tertentu.”

“Maksud Dan tujuan ?”…. Aku coba mengulanginya.

Lalu suara itu melanjutkan, “ya sebuah maksud dan tujuan yang terbaik bagi mu..Dan masa depanmu. Kamu tidak bisa berjalan dalam kegelapan ini tanpa uluran tangan Ku, lihat kerikil yang tajam itu Aku telah arungi bersama dengan beban yang berat Dan Aku telah menang …. ”

“Tiada seorangpun yang sanggup mengulurkan tangan ketika Aku jatuh Dan berdarah”, kataNya dengan lembut…..

“Perhatikanlah ketika kau jatuh, Aku Ada bersama dengan mu, tangan Ku senantiasa terulur untuk membantu Dan menopangmu, sebenarnya.. ..kerikil tajam itu membuat engkau lebih bersandar lagi kepada Ku Dan menggengam erat tangan Ku, bahwa kau sebenarnya tidak bisa berjalan dengan kekuatanmu sendiri….Aku adalah Dzat Pencipta yang tidak pernah melakukan kesilapan Dan kesalahan dalam hidup mu. Aku senantiasa memberi yang terbaik Dan bukan kedua terbaik bagimu, Meski jalan di depanmu adalah suram Dan gelap yang kau sangat tidak senangi, tapi yakinlah bahwa…..Aku akan menggendongmu terus sampai selamanya, dari rahim ibu mu Aku telah memilihmu… Dan sampai putih rambutmu pun Aku adalah Dzat Pencipta yang akan tetap menjagamu melindungimu bahkan sampai selama-lamanya.”

“ya Allah…” aku coba bersuara…tetapi suara itu melanjutkan lagi, “ketahuilah dalam kelemahan Dan air matamu kuasa Ku menjadi sempurna atasmu.”

Aku menangis mendengarnya aku tak sanggup mengungkapkan perasaan Ku hanya air Mataku menetes yang memberi jawaban atas semuanya.

Sahabat….bila semua itu berlaku pada dirimu, itu akan membuatkanmu untuk bersandar penuh kepada-Allah karana sebenarnya diluar Allah Kita tidak bisa berbuat apa-apa.

“Ku Sandarkan Semua kehidupan dan Matiku Pada Mu Allah Yang Maha Pengasih Lagi maha Penyayang”


Best Regard
Erwin Arianto,SE
¤¨¤ë¥¦¥£¥ó¡¡¥¢¥ê¥¢¥ó¤È
———— ——— ——— ——-
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY __._,_.___

Demi lautan yang meninggikan cahaya di kaki langit
Kita hanya  membaca kenangan sebagai buih, terlanjur
pahit
Masa depan adalah lingkaran luka yang terus membelit
Ada atau tidaknya harapan seolah berada di celah
sempit

Kemana lagi melanjutkan nasib dari janji setitis Adam
Tanpa senyuman cahaya pelangi menjadi buram
Sisa pelayaran hanya kepasrahan menuju karam 
Ada atau tidaknya harapan sama gelapnya seperti malam

Demi lautan yang memiringkan cahaya di kaki langit
Kita telah melepas janji kepada laut yang kian sangit

		Banda Aceh, 12 Februari 2008

Dino Umahuk: Metafora Birahi Laut
www.birahilaut.multiply.com

Wajah mu kerap ku mimpi
Wajah mu sering ku puja
Buatku terasa sepi
Kala ku bukakan mataKau masih belum pun ku punya
Rinduku masih kau tak peka

Cintamu kerap ku mimpi
Cintamu sering ku damba
Buatku terasa sedih
kala ku bukakan mata

Kau masih belum pun ku dakap
Rinduku masih kau tak singkap

Bila nak saksi
Kau datang terkulai
Bila nak saksi
Kau datang membelai
Bila nak saksi
Cintaku sampai

Dirimu kerap ku mimpi
Dirimu sering ku khayal
Aku angan-angankan
Kau dapat bersama

Nyatakan cinta yang terpendam
Membina istana tersergam

Bila nak saksi
Kau datang terkulai
Bila nak saksi
Kau datang membelai
Bila nak saksi
Cintaku sampai

Kau masih belum pun ku punya
Rinduku masih kau tak peka

Bila nak saksi
Kau datang terkulai
Bila nak saksi
Kau datang membelai
Bila nak saksi
Cintaku sampai
Bila nak saksi
Cintamu kugapai

Dirimu kerap ku mimpi
Dirimu sering ku khayal
Aku angan-angankan

Spider

Ku kejar matahari yang cair dilaut
ku ambil emas, perak dan kendangnya
untuk kulakarkan garis alam raya

yang kukumpul ialah mahacipta
embun cahaya di pantai lahar
batu hitam empedu bumi di timur matahari
gelombang yang digulung daun karang
terik samar sisa petang
alir cerah yang tercurah ke pasir

dalam mangkuk diriku
kucampurkannya kembali
sebagai suasana wujud

karya mat salleh

tangisan  suara anak kecil
mendayu dayu di tengah hiruk pikuk kota
lapar kah dia, takut kah dia, atau apa?
ramai mata memerhati, seimbas, seketika cuma,

di hujung sudut sana
ada garis kedut tua sedang duduk
hanya cebisan kain lusuh menutupinya
ramai mata memerhati, seimbas, seketika cuma.

di tangga batu kaki lima
ada yang sedang ketawa
sekumpulan remaja
bercampur jantinanya
bertepuk tampar
ramai mata memeharti, seolah dalam dengki
dalam cemburu, dalam kagum…..

entah mana hilangnya melayu
entah mana hilangnya adat
entah mana hilangnya pekerti
di tengah kemajuan, bumi tuhan

                  Pencinta  penulisan
Syed Badrul Hisyam Alhaddad

         http://alhaddads.wordpress.com
http://groups.yahoo.com/group/Alhaddads/

seraut pilu dan sesal diwajahnya
yang entah bila akan hilang
entah esok, entah lusa, atau tak akan hilang
derita dan bencana apakah yang ditanggungnya

bintang tidak lagi hadir bersama bulan
apabila matahari berlabuh
dan malam mula meyapa
rindu sang pungut juga tiada
ungas tidak lagi nyayikan irama asyik
lagu alam yang penuh tenang

hati yang dulu sentiasa berbunga
indah bagai taman di istana
semakin pudar tidak berseri
yang tinggal hanya kelopak yang semakin layu
akan bertebangan bersama dedaun kering
menyairkan puisi puisi sedih

                  Pencinta  penulisan
Syed Badrul Hisyam Alhaddad

         http://alhaddads.wordpress.com
http://groups.yahoo.com/group/Alhaddads/

Entah mengapa
Awan kelabu mencari aku
Mengekori di setiap penjuru
Bagai kan ingin aku bersama nya
Yang bergelapan tanpa pelita

Entah mengapa
Bagaikan tidak sanggup ditahan -tahan
Rintik demi rintik sesak berlumba mahu gugur
Seperti mahu mewar-war kan pada dunia
Empangan tabuh pecah dengan riwayatnya
Dan bendera putih telah berkibar lusuh
Kini hanya naik setengah tinggi besinya

Entah mengapa
Hari yang dipilih ini
Bukan sesuatu yang mustahil untuk di elak
Seringkali terus menghantui akal fikiran
langsung menjejaki hingga ke esokkan fajar yang berganti

mungkin kah nanti
kan bertukar awan yang lebih berkilauan
atau jernih dalaman
yang mampu mengerti aku
yang ikut bersama meminjamkan payung lindungan
seiring atau sekadar persinggahan
hingga aku jumpa payung yang lain²nya
atau mungkin..
tiada lagi payung yang mampu melindungi aku
dari awan kelabu itu..

– oney –

Dunia jelas
lembah berlatar bayang
dan jalan lurus menuju arah
kita biarkan mengumpul hutan
gelap, basah dan tanpa jalan keluar
olannya melilit kenyataan
yang kita takut dan elakkan

Racun kita tercurah pada peribadi
dengan irihati kita calarkan pendirian
atau kebesaran penanggung unggul
kita fitnahkannya dengan kekecilan
yang tinggal hanya belukar kering
dan bukit luka

Akan kelam kampung ini
tiada kata-kata lurus
tiada suara nyaring percaya
dan esak yang cerah
matahari sudah tenggelam

Karya Mat Salleh

Seusai musim melabuhkan sunyi

Kita semakin menjauhkan debar dari tapak kaki

Lama pelayaran adalah menghitung waktu pergi

Sendiri-sendiri menggulung mimpi ke batas sepi

Masa depan adalah cerita yang terurai sebagai airmata

Rindu mendesah biru lautan menggaramkan rasa

Kita semakin berbalik badan tak saling menyapa

Berpisah ranjang menunggu ajal di ujung senja

Seusai musim melabuhkan sunyi

Awan gelap mengirim dupa selaksa memedi

Arah pelayaran adalah mengitung jarak mimpi

Sendiri-sendiri menghela nasib ke batas api

Banda Aceh, 11 Februari 2008

Dino Umahuk: Metafora

Birahi

Laut

www.birahilaut.multiply.com

KENAPA bulan dan matahari tak dapat bertemu…Sedangkan BULAN dan
BINTANG sahabat sejati???

“Cahaya bulan tidak pernah meramal, itu janji yang dipegangnya. Ia
juga tidak pernah mengingatkan atau memberi awas-awas. Ia hanya
menerima sinar matahari yang kemudian dipantulkannya ke bumi: kilau-
kemilau” –Nur Rohayati Nengsih-

Suatu hari pernah ku dengar sebuah bintang berbicara pada bulan “Aku
tidak ingin lagi menemanimu mulai malam ini dan seterusnya” katanya.

“Kenapa?” tanya bulan “Padahal aku menyukaimu, aku menyukai malam-
malam dimana kau ada dan menemani ku hingga fajar menjelang” tetapi
bintang itu hanya diam meredup dan bersembunyi di balik mega.
Justeru kerana bulan menyukainya maka bintang itu menghilang. Aku
mengetahui hal itu kerana sebuah bintang lain yang adalah teman
karibnya mengatakannya padaku.

Cinta memang aneh, bukankah ia seharusnya mempersatukan?Bintang itu
mencintai bulan. Tetapi bulan tidak mencintainya, ia
hanya `menyukainya’. Siapa pula yang membeza-beza kan cinta dengan
suka? Kenapa bulan tidak membencinya saja, malah bulan menyukainya
sehingga bintang tidak mempunyai alasan untuk tidak menemaninya
malam nanti. Bintang yang sinarnya paling terang adalah bintang yang
berwarna biru.

Sebuah iklan tong gas yang sering kulihat di television juga selalu
membangga-banggakan produknya yang memiliki api biru, bukankah
bintang juga seperti api yang panas dan memberikan sinar?

Bintang yang sedang kuceritakan hanyalah sebuah bintang kecil yang
berwarna merah. Kerana itu ia tidak pernah dapat mengumpulkan
keberanian untuk berkata pada bulan “Akumencintaimu!”. Bulan sendiri
tidak pernah menganggap bintang sebagai lebih dari sahabat yang
selalu menemaninya setia pmalam, dan sesungguhnya bintang
mengetahuinya.

“Aku mencintai matahari” kata bulan “Ia dapat membuatku bersinar
indah diwaktu malam. Ia membuatku selalu ditunggu oleh para pencinta
malam. Ia membuatku selalu dinanti oleh para pujangga yang yang
menulis berbait-bait puisi tentang cinta hanya dengan melihat diriku
di langit malam. Anak-anak kecil menunggu kehadiranku agar dapat
bermain-main dilapangan di tengah kampung

Bintang tak pernah habis berfikir kenapa bulan mencintai matahari,
bulan bahkan hampir tak pernah bertemu denganmatahari dan ketika
mereka bertemupun bulan akan kehilangan sinarnya.

Kita menyebutnya gerhana matahari, saat itu kita tidak diperbolehkan
melihat langsung ke langit, katanya dapat merosak mata kita.
Matahari tidak pernah memikirkan bulan, ia hanya bersinar dan
memberikan sinarnya tanpa membeza-bezakan. Ia bahkan tidak
mengetahui kalau sinarnya dimanfaatkan oleh bulan untuk bersinar
dimalam hari. Ia hanya menganggap bulan sebagai benda yang kadang-
kadang menghalanginya memberi sinar kepada bumi.

Mungkin matahari mencintai bumi, aku tidak tahu kerana aku tidak
pernah bercakap-cakap dengan matahari dan bumi tidak pernah
bercerita tentang ini, sejujurnya aku tidak terlalu peduli.

Bintang merasa tidak mendapatkan keadilan. Kenapa bulan mencintai
matahari yang bahkan tidak pernah memikirkan bulan, dan bukan
mencintai bintang yang mencintai bulan dengan sepenuh hatinya?
Bintang juga merasa tak berdaya kerana walaupun ia ingin memberikan
seluruh sinarnya kepada bulan agar selalu kilau kemilau, bintang tak
dapat melakukannya kerana jaraknya yang sangat jauh.

Matahari juga adalah bintang, bintang merah yang sama seperti
dirinya, kerana letak nyalah matahari dapat terlihat lebih terang
daripada bintang. Tapi bintang adalah bukan matahari, kerana itu
bulan tidak mencintai bintang.

Cinta memang aneh. Kerana itu sekali lagi bintang berkata, kali ini
kepada semua teman-temannya “Aku tidak ingin lagi menemani bulan
mulai malam ini” kemudian ia menghilang (tak hanya meredup
danbersembunyi di balik mega) dan tak pernah lagi menemani bulan.

Aku akan memberitahu sebuah rahsia sekarang, BINTANG ITU ADALAH AKU.
Ia turun ke bumi sebagai bintang jatuh dan juga permintaan sepasang
kekasih agar mereka berdua dapat hidup berbahagia hingga akhir
hayatnya. Ia kemudian jatuh kerumahku dan menyusup ke dalam rahim
ibuku dan menjadi aku.

Dan betapa pun aku tak ingin lagi menemani bulan, kadang-kadang aku
akan sangat merindukannya

Dan aku akan menatap bulan dan mendengarkan percakapan semesta,
sambil berharap suatu hari nanti bulan akan dapat mencintai bintang.
Jika hari itu tiba aku akan terbang ke langit dan kembali menjadi
bintang yang akan selalu menemani bulan.

Ku pandang langit
Penuh Bintang bertaburan..
Berkelap-kelip seumpama bintang Berlian..
Tampak sebuah lebih terang Cahayanya
Itulah Bintangku,
Bintang kejora yang indah slalu..

penulis: tiada nama

From “The Prophet” Kahlil Gibran, Lebanese Poet

WAKTU

Dan seorang pakar perbintangan berkata, Guru, bagaimanakah perihal
Waktu?

Dan dia menjawab:
Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.
Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan
perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.
Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, diatas bantarannya
kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.

Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan nan
abadi,
Dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok hari
adalah harapan.
Dan bahwa yang bernyanyi dan merenung dari dalam jiwa, senantiasa
menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.
Setiap di antara kalian yang tidak merasa bahwa daya mencintainya
tiada batasnya?
Dan siapa pula yang tidak merasa bahwa cinta sejati, walau tiada
batas, tercakup di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari
pikiran cinta ke pikiran cinta, pun bukan dari tindakan kasih ke
tindakan kasih yang lain?
Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada
kenal ruang?

Tapi jika di dalam pikiranmu haru mengukur waktu ke dalam musim,
biarkanlah tiap musim merangkum semua musim yang lain,
Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa
depan dengan kerinduan.

KITA BELAJAR CINTA DARI APA PUN

Kita belajar apa itu cinta dari seorang ibu yang menyusui anaknya
dalam gendongan,
sedangkan kedua belah tangannya sibuk menisik selimut keluarga.
Dalam dadanya tiada sesuatu apa selain ketulusan memberi atas nama cinta.

Kita belajar apa itu cinta dari seorang ayah yang membawa pulang
sejumput padi
dan setuang air setelah seharian berterik-terik di ladang.
Dalam dadanya tiada sesuatu apa selain kegembiraan memberi atas nama
cinta.
Karena cinta bukan hanya sekedar pelukan hangat, belaian lembut, atau
kata-kata penuh dayu,

Bahkan cinta bukan hanya cinta yang kita rasakan saat jatuh cinta.
Kita belajar apa itu cinta dari apa pun yang ada di muka bumi.

Dari cahaya matari.
Dari sepasang merpati.
Dari sorot mata anak-anak yang menanti pemberian.
Dari sujud dan tengadah doa.

Dari apa pun!

Dari seluruh kelahiran, yang kita sambut dengan cinta,
hingga kematian yang
kita larung dalam cinta,
kita hanya belajar satu hal: cinta.

Dan kehadiran kita dalam hidup ini pun tiada maksud lain selain
mewujudkan cinta.

Karena itu,
tiada yang pantas kita lakukan selain
atas nama cinta kita yang teragung.

From:    Abdul Karim

Bunga Matahariku

kamu mungkin cinta matiku
diantara sekian pesona tertebar yang ada

kamu mungkin keinginan dasarku
diantara beribu keinginan luasku

kamu mungkin serimbun akar pohon kehidupanku
yang bercabang tak henti henti

Aku temukan hal indah di garismu
telanjangi buruk garis-garis gelapku
menyekaku dari belokan alurku
membimbingku ke lurusnya jalanmu

………………….
kematian rasamu kematian jiwaku
ambingkan aku ke sayap tak pastiku
jatuhkanku ke persimpangan sesatku
luruhkanku di penantian semuku

Bunga Matahariku,
ketiadaan asamu ketiadaan ilhamku

Rio de Rush
Jakarta, 20 June 2001

Citra Cinta
Rhoma Irama
Cipt. Rhoma Irama
Album: Soneta Vol. 12

Dihiasi alam manusia ini
Dengan cinta sebagai rahmat-Nya

Agar dapat hidup berkasih-sayang
Laki-laki dan perempuan
Agar dapat mengembangkan keturunan
Demi penerus perjuangan

Bila datang rasa cinta hati-hati dan waspada
Jaga, pelihara, serta kuasailah
Sehingga sampai waktunya halal bagimu berdua
Bila biduk cinta tiba di titik nikah

Banyak sudah tunas-tunas muda
Berguguran sebelum berkembang

Korban dari nafsu birahi durjana
Yang mengatasnamakan cinta
Janganlah kau menodai citra cinta
Yang memang suci dan mulia

Syukurilah anugerah cinta
Pelihara nilai citra cinta

— Shera Sirimavo

Ini adalah saat bagimu untuk bersikap ramah pada diri sendiri

Ini adalah saat untuk berkumpul bersama teman-teman yang menyayangi kamu

Ini adalah saat untuk menulis di buku harianmu

Ini adalah saat untuk membuat daftar semua unsur yang kausukai pada dirimu sendiri

Ini adalah saat untuk tidak memikirkan apa-apa yang tidak kausukai tentang dirimu

Ini adalah saat untuk merenung dan mengingat bahwa segala sesuatu akan berubah
dan apa yang kaualami inipun akan berlalu

Ini adalah saat untuk membaca buku yang bagus

Ini adalah saat untuk mengatakan hal-hal yang menyenangkan pada dirimu sendiri

Ini adalah saat untuk menemukan cinta yang kaucari di dalam dirimu sendiri

Sedikit petikan yang dipetik dari karya penulisan
KHALIL GIBRAN.

KataGibran001

“Jika engkau benar-benar membuka matamu dan melihat,
engkau akan menyaksikan bayanganmu dalam semua
bayangan.
Dan bukalah telingamu, lalu dengarlah,
maka engkau akan mendengar
suaramu sendiri dalam semua suara.”

KataGibran038

Kata yang paling indah di bibir umat
manusia adalah kata ”Ibu”,
dan panggilan paling indah
adalah ”Ibuku”, ini adalah kata penuh
harapan dan cinta,
kata manis dan baik yang keluar dari
kedalaman hati.

KataGibran016

“Kebanyakan orang yang berperasaan halus
dengan cepat menyakiti hatimu
agar kamu tidak mendahului mereka
dengan menyakiti hati mereka. ”

KataGibran019

“Di dalam hasrat manusia,
ada kekuatan kerinduan yang
mengubah kabut dalam diri kita menjadi matahari. ”

**********************
KHALIL GIBRAN adalah sibijak membara.
Pemikiran-pemikiran bijaknya senantiasa jauh melampaui
masa dan terus membara sampai entah bila.
Beliau lahir di Beshari, Lebanon (1883), sepuluh tahun
kemudian hijrah ke Amerika, dan menghabiskan masa
remajanya di Boston.
Sempat belajar di Paris dan kemudian tinggal di New
York. Banyak hal bermanfaat yang dapat dipetik dari
untaian kata-katanya. Bacalah dalam sunyi, renungkan
dalam diam, resapi dalam hening, dan Anda akan dapat
memetik sesuatu yang entah apa, seperti nyala api
yang membakar dan terus membara dalam rasa.
**********************

                  Pencinta  penulisan
Syed Badrul Hisyam Alhaddad

         http://alhaddads.wordpress.com
http://groups.yahoo.com/group/Alhaddads/

Akulah sio kona nama yang hilang di pulau Halmahera
Pasir putih tanpa nama yang pasrah pada sengsara
Begitu sejarah menggulungku hingga karam, dimana
Bunda?
Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa  cerita itu juga sio kona

Tanah air adalah kisah penumpasan dari takdir
Mioti-Lamo
Dengan bekal perahu akan kubuat kampung seperti
Gamfela le
Juga jalan takdir bagi ajal yang kian merapat
Biar angin Selatan melemparkan Jan Pieterszon Coen ke
tanah asal

Tanah itu jua sio kona sejak mula ikan makan ikan
Ikan homa dimakan ikan ido menjadi santapan hiu
Masa depan kita  arus balik yang terus memerah
Tanpa bobato dan dalil moro dari mana sumber cahaya

Sio kona tanah itu jua
Ikan makan ikan sejak dulu kala

Banda Aceh, 6 Februari 2007

Cinta Tak Pernah Ada

 

Wahai cinta-cinta

Lihatlah aku

Dari mata malik

Aku tetamu tetapnya

Yang datang

Setiap pagi

Dan pulang

Setiap sore

 

Aku hidup

Saat kau mati

Yang langsung

Aku tak akan peduli

Kerana kau

Hanya malamku

Siang nanti

Kau hilang

Dan aku jemu

 

Telah aku beritahu

Faharasatku

Kini naraku

Adalah nafsu

Yang membunuh

Jauhi aku

 

Juan Einriqie

  

JUAN EINRIQIE
Woodlands Crescent
Blk 787D #02-42
Singapore 734787
Tel : (+65) 91010339
 
Sayang Sayang-Aliff Aziz
Masaku teringat akan dirimu
Ada sesuatu begitu mengganggu
Diam-diam aku menyukaimu
Bermimpi bila kau jadi milikku

Jauh di dasar hatiku
Inginku ku teriak…
Aku cinta kamu!

Sayang, sayang, sayang
Kamu dah berpunya
Tertutup sudah bagiku kesempatan

 

Dan bukan gayaku
Rebut pacar orang
Meski hati tulus
Cerita berakhir tak senang

 

Aku tahu akan sulit bagiku
Mencari-cari pengganti dirimu
Tapi bagi lelaki macam aku
Tak mau berakhir kerna begitu

 

Jauh di dasar hatiku
Inginku teriak
Aku cinta kamu!

 

Sayang, sayang, sayang
Kamu dah berpunya
Tertutup sudah bagiku kesempatan

 

Dan bukan gayaku rebut pacar orang
Meski hati tulus
Cerita berakhir tak senang

 

Tak mungkin, tak mungkin
Aku menyerah hanya kerna tak dapatkan kamu
Meski jauh di dasar hatiku


Ingin ku teriak
Aku cinta kamu!

 

Sayang, sayang, sayang
Kamu dah berpunya
Tertutup sudah bagiku kesempatan

 

Dan bukan gayaku
Rebut pacar orang
Meski hati tulus cerita berakhir tak senang

 

Sayang, sayang, sayang
Kamu dah berpunya
Tertutup sudah bagiku kesempatan

 

Dan bukan gayaku
Rebut pacar orang
Meski hati tulus


Cerita berakhir tak senang,
Cerita berakhir tak senang

DOWNLOAD DISINI

Kupersembahkan Petikan Sekuntum Cinta Termiliki untuk BidadarikuKupandang langit pagi ini
Awan putih berarak indah di hamparan mega
terurai wajah cantik bidadari ku dalam arak awan itu
Alam pun berbahasa Mengerti rasa kerinduan Hati

Diantara senandung langkah bumi ku
aku menantikan langkahmu di depan pintu hatiku
Diselimut awan putih itu
kugantungkan cinta suciku dalam relung kasih mu

kamu adalah sejumput impian yang teringini
Batin ini takkan lagi terdustai atas rasa cinta termiliki
Jam pasir telah kembali mengalir bersama rasa kita
Detik-detik Deret waktu kembali terpatri Rasa

Rasa yang tidak mungkin kau ingkari
Rasa yang begitu indah bersenandung dalam sanubari
Rasa yang selalu hidup bersama detak irama cinta kita
Rasa yang bersemayam dan tumbuh merekah dalam taman mimpi kita

Kuberdoa pada-NYa Mengapa Harus Kurajut benang cinta diantara duka
Biarkan aku menjadi bagian kecil di taman Indah hatimu
Karena Cinta Ini Tak akan terganti hanya milik mu
Kupersembahkan Petikan Sekuntum Cinta Termiliki untuk Bidadariku
Walau Setelah itu Aku Kan Layu dan Mati

Teruntuk Bidadari Yang Bersembunyi. … Aku Mencintaimu Dengan Sangat
Erwin Arianto
Depok 6 Februari 2007

On 2/5/08, Hapsari Wirastuti Susetianingtyas <hapsari.ws@gmail. com> wrote:

Bidadari bukan milikmu lagi

Jam pasir telah tertumpah
Menunjuk waktumu tak tersisa
Ruang cintamu tlah tertutup
Takkan lagi ada sudut cinta yang terpatri

Kau bukan lagi seonggok hati
Bukan sejumput impian yang teringini
Bukan sang penghibur yang mengelitiki jiwa
Bukan pula penjaga yang menggelilingi sukma

Langkah yang oleng tlah terhenti
Batin tersiksa takkan lagi terdustai
Angin takkan lagi membisukan rahasia
Kisah yang salah di sisa hati

Detikmu sudah habis
Arah hembusanmu telah terarak
Ikrarmu telah terjanji
Pertanda bidadari bukan milikmu lagi


Regards,
Hapsari Wirastuti Susetianingtyas


Best Regard
Erwin Arianto,SE
¤¨¤ë¥¦¥£¥ó¡¡¥¢¥ê¥¢¥ó¤È
———— ——— ——— ——-

Jika kita bersatu…
Posted on Tuesday, February 05 @ 06:44:31 MYT by SongkokPutih
Penulisan Kreatif Oleh annas

jika kita bersatu…
pasti mereka akan jatuh tersungkur
diatas satu jalan
ukhuwah persaudaraan
mempertahankan panji-panji kebenaran
dalam satu laungan suara
bersama doa-doa munajat
satu takbir satu syahadah
jika kita bersatu….

jika kita bersatu…
tiada sengketa dibicara sinis
tiada rasa keegoan
saling-tuduh menuduh
saling merasa dirinya teramat hebat
saling berdusta diatas satu kewajipan
penuh buruk-sangka yang melatah
kita akan gagal dalam perjuangan
jika kita bersatu…

jika kita bersatu…
mengharap suatu keredhaan
menjulang kebenaran
disetiap penjuru-penjuru yang kelam
membisikkan semangat kasih dan sayang
diatas nama saudara
bersatu dalam satu barisan
dalam bicara-bicara indah bermakna
pasti ada jalan kebenaran
jika kita bersatu…

jika kita bersatu…
mendengar suara hati
memperbaiki jalan-jalan yang silap
memanjatkan suatu doa rintihan
diatas nama kerinduan kasih
memimpin saudara yang sudah tandus
penuh rasa ukhuwah
pasti disitu ada jalan yang teramat mudah
jika kita bersatu…

jika kita bersatu…
setiap musuh akan tersungkur lara
penuh kedukaan berparut luka gelisah
disitu kita akan bangkit semula
memperbaiki setiap warna buta
penuh kebebasan
penuh rasa kasih
jika kita bersatu…

jika kita bersatu….
alangkah indahnya…”

Cintamu akan terus mengisi setiap hariku
Seperti bintang selalu menemani rembulan menghiasi Malamku
Dan Deru langkahmu akan menyertai tahun-tahunku
Tak Terasa telah bertambah satu usia mu

Peluklah aku dengan tawa
Lambaikan tanganmu dengan doa
Sematkan ceria dilukisan wajahmu
dan kita rayakan bersama

Ter-iring Doa Untukmu Suamiku pada pertambahan Usia mu kini
Tuhan tolong ampuni dia dengan segenap kasih-Mu
Tuhan tolong bimbing dia dengan seuntai hidayah-Mu
Tuhan tolong lindungi dia dengan sepenuh cinta-Mu

Ku Selalu berharap Seiring Pertambahan usiamu
Tak pudarkan Bias kehangatan Kasihmu
kau Terus Tersenyum Bersama Cinta Mu
Mendesirkan Keiklasan Cinta Dalam Hamparan Hidupku

Biarkan ku selalu melihat wajahmu
tersenyum dalam kehangatan tatap matamu
Ku ingin Selalu menatapmu dengan sejuta kelembutanku
biarlah aku mendampingimu sampai akhir Waktuku Suamiku

Erwin Arianto

Alam,
Engkaulah tempat ku dibesarkan dan bermain,
Kau cantik, kau ditumbuhi dengan flora dan fauna yang beraneka rupa,
Kau digunakan untuk pembangunan, pertanian dan petempatan,
Banyak sungguh jasa yang telah engkau sumbangkan.

Manusia,
Kaulah makhluk Allah di dunia,
Kau amat kusanjungi,
Kau cerdik, kau pandai menggunakan segala pemberian yang Maha Esa,
Kau telah menggunakan alam untuk memenuhi keperluanmu,
Tetapi malangnya ada manusia yang alpha dan tamak haloba,
Sanggup menyalahgunakan alam nikmat pemberian Tuhan ini,
Dari alam yang cantik, telah bertukar wajah menjadi alam yang penuh
dengan pencemaran.

Oleh itu,
Jagalah dan peliharalah alam kita,
Tanamlah tumbuh-tumbuhan dari benih-benih cinta yang subur, sirami
dan bajailah ia
Jagalah keindahan serta kebersihannya,
Supaya bumi tempat kita berpijak tidak disalahgunakan,
Alam yang bersih melahirkan anak-anak yang sihat.

by: Sharifah azie

Citra Cinta
Rhoma Irama
Cipt. Rhoma Irama
Album: Soneta Vol. 12

Dihiasi alam manusia ini
Dengan cinta sebagai rahmat-Nya

Agar dapat hidup berkasih-sayang
Laki-laki dan perempuan
Agar dapat mengembangkan keturunan
Demi penerus perjuangan

Bila datang rasa cinta hati-hati dan waspada
Jaga, pelihara, serta kuasailah
Sehingga sampai waktunya halal bagimu berdua
Bila biduk cinta tiba di titik nikah

Banyak sudah tunas-tunas muda
Berguguran sebelum berkembang

Korban dari nafsu birahi durjana
Yang mengatasnamakan cinta
Janganlah kau menodai citra cinta
Yang memang suci dan mulia

Syukurilah anugerah cinta
Pelihara nilai citra cinta

kamu mungkin cinta matiku
diantara sekian pesona tertebar yang ada

kamu mungkin keinginan dasarku
diantara beribu keinginan luasku

kamu mungkin serimbun akar pohon kehidupanku
yang bercabang tak henti henti

Aku temukan hal indah di garismu
telanjangi buruk garis-garis gelapku
menyekaku dari belokan alurku
membimbingku ke lurusnya jalanmu

………………….
kematian rasamu kematian jiwaku
ambingkan aku ke sayap tak pastiku
jatuhkanku ke persimpangan sesatku
luruhkanku di penantian semuku

Bunga Matahariku,
ketiadaan asamu ketiadaan ilhamku

Rio de Rush
Jakarta, 20 June 2001

Kita belajar apa itu cinta dari seorang ibu yang menyusui anaknya
dalam gendongan,
sedangkan kedua belah tangannya sibuk menisik selimut keluarga.
Dalam dadanya tiada sesuatu apa selain ketulusan memberi atas nama cinta.

Kita belajar apa itu cinta dari seorang ayah yang membawa pulang
sejumput padi
dan setuang air setelah seharian berterik-terik di ladang.
Dalam dadanya tiada sesuatu apa selain kegembiraan memberi atas nama
cinta.
Karena cinta bukan hanya sekedar pelukan hangat, belaian lembut, atau
kata-kata penuh dayu,

Bahkan cinta bukan hanya cinta yang kita rasakan saat jatuh cinta.
Kita belajar apa itu cinta dari apa pun yang ada di muka bumi.

Dari cahaya matari.
Dari sepasang merpati.
Dari sorot mata anak-anak yang menanti pemberian.
Dari sujud dan tengadah doa.

Dari apa pun!

Dari seluruh kelahiran, yang kita sambut dengan cinta,
hingga kematian yang
kita larung dalam cinta,
kita hanya belajar satu hal: cinta.

Dan kehadiran kita dalam hidup ini pun tiada maksud lain selain
mewujudkan cinta.

Karena itu,
tiada yang pantas kita lakukan selain
atas nama cinta kita yang teragung.

From:    Abdul Karim

WAKTU

Dan seorang pakar perbintangan berkata, Guru, bagaimanakah perihal
Waktu?

Dan dia menjawab:
Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.
Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan
perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.
Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, diatas bantarannya
kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.

Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan nan
abadi,
Dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok hari
adalah harapan.
Dan bahwa yang bernyanyi dan merenung dari dalam jiwa, senantiasa
menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.
Setiap di antara kalian yang tidak merasa bahwa daya mencintainya
tiada batasnya?
Dan siapa pula yang tidak merasa bahwa cinta sejati, walau tiada
batas, tercakup di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari
pikiran cinta ke pikiran cinta, pun bukan dari tindakan kasih ke
tindakan kasih yang lain?
Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada
kenal ruang?

Tapi jika di dalam pikiranmu haru mengukur waktu ke dalam musim,
biarkanlah tiap musim merangkum semua musim yang lain,
Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa
depan dengan kerinduan.

+khalil gibran +

Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.

Dan dia? menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.

Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam? persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika? kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.
+khalil Gibran+

Salleh dan Salleha sedang duduk bersama di taman kampus tanpa
melakukan apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat
mereka yang lain sedang asyik bercanda ria dengan kekasih masing-
masing.

Salleha : ” Ahhh!! aku bosan. Aku berharap aku juga mempunyai
kekasih yang dapat bersama berkongsi waktu denganku. ”

Salleh : ” Nampaknya cuma tinggal kita berdua saja yang masih single
mingle, masih tidak mempunyai pasangan sekarang.” (keduanya mengeluh
dan berdiam beberapa saat)

Salleha : ” Aku ada idea best nie. Kita adakan permainan jom? ”

Salleh : “Errr? Permainan apa? ”

Salleha : “Ermmmmm… sonang tu bah. Apa kata kau jadi kekasihku dan
aku jadi kekasihmu tapi hanya untuk 100 hari saja….. camnerr okay
tak? ”

Salleh : ” Baiklah… lagi pong aku juga belom ada agenda apa-apa
untuk beberapa bulan nie. ”

Salleha : ” Lerr… cam tak ikhlas jerr…. nak tak nak??… semangat
sikitlah! Hari ini akan jadi hari pertama kita bercouple. Kita ke
mana sekarang? ”

Salleh : ” Camnerr kalau kita nengok wayang ajerr? Kalau tak salah
cerita Love Is Cinta tengah now showing nie….. Ajeb ngan Adha cakap
citerr nyerr best tau.. dia orang kasi 4 bintang lagi. ”

Salleha : “OK sett!!!…. Jom kita pergi sekarang. Pastu kita gi
karaoke yerr… agak-agak kalau kita ajak sama MasPenn ngan Lili tu
dia nak tak??? ”

Salleh : “Boleh juga…” ( mereka berdua pun pergi menonton,
berkaraoke dan Salleh menghantar Salleha pulang selepas itu )

Hari ke 2 :

Salleh dan Salleha menghabiskan waktu untuk berbual dan bercanda di
kafe, suasana kafe yang remang-remang dengan alunan muzik yang
syahdu membawa hati mereka pada situasi yang romantis. Sebelum
pulang Salleh membeli sebuah kalung perak yang berloketkan sebiji
bintang untuk Salleha.

Hari ke 3 :

Mereka pergi ke Mall membeli-belah untuk mencari hadiah buat Lady
Rye, seorang sahabat Salleh. Setelah lelah berkeliling dalam Mall,
mereka memutuskan untuk membeli sebuah jam tangan. Setelah itu
mereka beristirehat dan duduk di foodcourt, makan sepotong kuih dan
satu gelas jus berdua dan mulai berpegangan tangan untuk pertama
kalinya.

Hari ke 7 :

Bermain bowling dengan teman-teman Salleh. Tangan Salleha terasa
sakit kerana tidak pernah bermain bowling sebelumnya. Salleh memicit-
micit tangan Salleha dengan lembut.

Hari ke 25 :

Salleh mengajak Salleha makan malam di Danga Bay. Bulan sudah
menampakkan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang
dalam pelukannya. Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati
suara desir angin berpadu dengan suara gelombang bergulung di
pantai. Sekali lagi Salleha memandang langit, dan melihat bintang
jatuh ( shooting stars ). Dia mengucapkan suatu permintaan dalam
hatinya.

Hari ke 41 :

Salleh menyambut ulang tahun. Salleha membuatkan kek ulang tahun
untuk Salleh. Bukan kek buatannya yang pertama, tetapi kasih sayang
yang mulai timbul dalam hatinya membuat kek buatannya itu menjadi
yang terbaik. Salleh terharu menerima kek itu, dan dia mengucapkan
suatu harapan saat meniup lilin ulang tahunnya.

Hari ke 67 :

Salleh dan Salleha menghabiskan waktu di Sunway Lagoon. Berjalan
sama di The World’s Longest Pedestrian Suspension Bridge, sambil
menikmati pemandangan. Naik The Viking, makan aiskrim bersama, dan
mengunjungi kiosk permainan. Salleh menghadiahkan sebuah boneka
teddy bear besar bermata biru untuk Salleha, dan Salleha membelikan
sebuah MP3 thumbdrive player untuk Salleh.

Hari ke 72 :

Pergi ke Suntec City di Temasik. Melihat meriahnya pameran dari
negeri Cina. Salleha mengajak Salleh untuk mengunjungi salah satu
kiosk “Fortune Telling”. Sang peramal hanya mengatakan “Hargai
waktumu bersamanya mulai sekarang” kemudian peramal itu menitiskan
airmata.

P.S : Korang jangan pulak besok-besok gi jumpa tukang telek pulak…
tang ini cuma buat sedapkan jalan citerr jerr…

Hari ke 84 :

Salleh mengusulkan agar mereka berlibur ke pantai. Pantai desaru
kelihatan sepi kerana bukannya waktu percutian bagi orang lain.
Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil
berpegangan tangan, merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut
menghempas kaki mereka. Matahari terbenam, dan mereka berpelukan
seakan tidak ingin berpisah lagi.

P.S Lagi : Tang peluk-peluk nie pong… korang jangan pulak nanti
serang jebat pasai buat adengan peluk-peluk… sama jugak macam yang
kat atas tu… sajerr nak panjangkan citerr…

Hari ke 99 :
Salleh memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan bersantai
sambil berputar-putar tanpa arah tujuan keliling bandar dan akhirnya
duduk di sebuah taman.

1520hrs

Salleha : ” Aku haus. Rest kejap okay. ”

Salleh : ” Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aye nak
minum “Green Tea”; You nak minum apa? ”

Salleha : ” Biar I saja yang beli. Aye kan penat putar stering
keliling bandar hari ini. Sekejap yerr ”

Salleh mengangguk. Kakinya memang suka simpul biawak atau cramp
kalau lama memandu.

1530hrs

Salleh sudah menunggu selama 10 minit and Salleha masih belum
kembali juga. Tiba-tiba seseorang yang tidak dikenali berlari
menghampiri Salleh dengan wajah panik.

Salleh : ” Ada apa Cik? ”

Orang asing : ” Ada seorang perempuan dilanggar kereta. Rasa-rasanya
macam temanmu tadi ”

Salleh segera berlari bersama orang itu. Disana, di atas jalan yang
panas terjemur terik matahari siang, tergeletak tubuh Salleha
bersimbah darah, masih memegang botol minumannya. Salleh segera
menelefon ambulan dan langsung mengikut Salleha ke rumah sakit
bersama-sama ambulan. Selama 8 jam 10 minit, Salleh tidak senang
duduk diruang menunggu bilik kecemasan. Sekejap berdiri… sekejap
mundar-mandir.. fikiran Salleh bercelaru. Seorang doktor keluar
dengan wajah penuh penyesalan.

2353hrs

Doktor Zuhana : ” Maaf, tetapi kami sudah cuba melakukan yang
terbaik. Dia masih bernafas sekarang tapi Yang Maha Kuasa akan
segera menjemput. Kami menjumpai surat ini dalam kocek bajunya. ”

Doktor Zuhana memberikan sekeping surat yang terkena percikan darah
kepada Salleh dan Salleh segera masuk ke dalam bilik rawatan untuk
melihat Salleha. Wajahnya pucat tetapi kelihatan damai. Salleh duduk
disisi pembaringan Salleha dan menggenggam tangan Salleha dengan
erat. Untuk pertama kali dalam hidupnya Salleh merasakan torehan
luka yang sangat dalam di hatinya. Butiran airmata mengalir dari
kedua belah matanya. Kemudian dia mulai membaca surat yang telah
ditulis Salleha untuknya.

Sahabatku Salleh…
Ke 100 hari kita sudah hampir berakhir. Aku menikmati hari-hari yang
telah ku lalui bersamamu. Walaupun kadang-kadang kau buat derk dan
tidak dapat ku membuat telahan, tetapi semua perkara itu telah
membawa kebahagiaan dalam hidupku.

Aku sudah menyedari bahawa kau adalah jejaka yang berharga dalam
hidupku. Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih
dalam lagi sebelumnya.

Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita dapat
memanjang hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang ku ucapkan
pada bintang jatuh malam ( shooting stars ) itu di pantai, Aku ingin
kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi kekasihmu
selamanya dan berharap kau juga akan berada disisiku seumur hidupku.
Salleh, aku sangat sayang padamu.

by: “chipmunk_malaysia”

Sepi dalam CINTA, gema gitar yang dipetik melahirkan irama keluhan
hati yang meresap ke lubuk sanubari. Kerana CINTA, semuanya terasa.
Seni dalam CINTA mengalirkan perasaan yang menyelubungi ruang hati.
Kerana segenap penjuru mahukan rindu berbening. Air mata dan CINTA
tidak mampu dipisahkan; umpama aur dengan tebing. Sesekali CINTA
berubah, sesekali air mata tercurah. Bila hati gelap gelita kerana
CINTA yang terpisah, berderau rasa gelisah sepanjang hari. Dan malam
berasa panjang, angin bertiup dirasakan teramat dingin. Saat itu
segala kepasrahan hidup terucap di depan. Semua gelap dan tiada lagi
dirasakan indah bakal di depani. Demikian rentak muzik menyusuri
masuk ke dalam jiwa sebagai ganti penghibur sepi.

Adakah yang dimainkan oleh gitar M. Nasir itu bukan daripada
sentuhan hati? Mungkin lahirnya lagu seperti Cinta Sepi, Demi Masa
dan Dari Kekasih Ke Kekasih sewaktu dia dilamar kasmaran yang
dahsyat. CINTA dari hati seorang berjiwa seni adalah terlalu
mendalam. Maka terlahir seni dari hati yang teramat sepi.

Petikan gitar, geseran biola dan alunan suara merdu terlalu
diperlukan di kala sepi dari CINTA yang berpusar ganas. Bila
permainan perasaan terlalu jauh terlayang, maka alam bertukar wajah.
Kita bukan lagi berada di alam yang nyata, tetapi khayalan akan
lebih kuat menguasai sekitar benak minda. Segala kewarasan akan
terhenti seketika dan realiti sebenar kehidupan terlupa sejenak.
Alam CINTA yang ditanggung menjadikan CINTA kebuntuan memecah
perjalanan hidup. Benarlah kata Azman Husin, “CINTA menjadikan
seorang intelektual menjadi bodoh,” untuk menilai dalam keadaan
realiti sebenar.

Malam, bulan dan bintang, adalah asas dalam kehidupan yang sentiasa
berlegar harmonis di antara CINTA dan rindu, resah dan cemburu.
Mungkinkah akan terjawab segala gelora resah yang mencengkam hati.
Akhirnya falsafah CINTA akan terbias di puncak sepi. Di samping
segala sajak dan puisi terlahir di kaki malam sebagai cara
melepaskan sepi. Hanya kerana CINTA, hati manusia mampu dilembutkan.
Perubahan tingkah laku juga dapat dirasakan kiranya alam CINTA telah
bermula. Adakah selepas berakhirnya alam CINTA mampu mematangkan
perangai dan pemikiran? Dan sekiranya kekecewaan yang dialami sudah
terlupa, mungkinkah kita lebih berhati-hati dalam sesuatu yang
berbentuk perasaan?

CINTA sebagai satu kemestian. Adakala CINTA itu bermula pantas
sekali dan perlahan-lahan. Dari pintu hati ia berbenang dan lama
kelamaan segulung kasih tersimpul erat di dalam hati. CINTA perlu
dipupuk supaya sentiasa segar dan kehijauan seperti dedaun yang
berkilauan disirami cahaya pagi. CINTA itu terlalu indah. Seindahnya
umpama sejambak bunga cantik, berwarna-warni, segar, harum dan wangi
kalau kena gubahannya. Dan bunga yang dipilih daripada jenis yang
subur dan baru mekar dari kelopak. Kalaulah kita pandai
menggubahnya, semakin berserilah CINTA itu. Dan kalaulah tersalah
gubahannya, CINTA yang diimpikan kurang berseri dan tiada keharuman
menyelubungi suasana sukma. Tak siapa sudi menghargai CINTA yang
diberikan.

Kesepian menjadikan CINTA semakin mendalam. CINTA daripada gadis
yang pendiam dan pemalu adalah sifat sejati. Sifat pendiam dan malu
membuatkan CINTA dari hatinya mengalir untuk yang satu. CINTA
seorang gadis desa penuh dengan kesetiaan dan kejujuran. Hubungan
sosialnya dengan kawan-kawan yang selalu terbatas menyebabkan dia
hanya memadai mengenali yang diCINTAinya. Ditambah kesunyian suasana
desa yang damai, terasing dan jauh dari kekalutan kota yang sentiasa
palsu penuh kepuraan CINTA.

Di celah kehidupan kampung diselubungi sepi, CINTA menjadi fokus
utama dalam hati seorang remaja desa. CINTA lahir dalam hati kerana
kesunyian dan kesepian seringkali mengundang kepada kerinduan. Dari
kerinduan menghasilkan pelbagai penyeksaan kerinduan batin dan CINTA
itu adalah suci sekiranya dibatasi landasan syariat. CINTA seorang
gadis desa penuh berliku dan melalui ranjau yang berduri. Tiada apa
yang dapat menghiburkan hati melainkan sekeping potret sebagai
penawar. Di waktu malam, dinginnya udara, bisunya alam dari bunyian
dibilas dari samar-samar cahaya bulan mengundang soal CINTA mula
bermain di hati.

Tiada teman berbicara, CINTA dalam hati cukup berkecamuk. Pelbagai
anggapan dan tafsiran datang berombak-ombak bersama rasa kepiluan
dalam hati. Mungkinkah yang diCINTAi tidak dapat dimiliki? Dari hari
ke hari, CINTA kian bersemi dalam dakapan hari sewaktu berlari.
Dalam diari perasaan diluahkan demi mencari kedamaian hati. Di taman
sanubari CINTA telah bersatu untuk melakar hidup di alam yang
diimpikan.

CINTA gadis kota pula jarang sekali kesetiaan dihargai dan senang
tawar CINTAnya. Mudah hatinya bertukar dan berubah mengikut cita
rasa. Kenangan yang dibina mudah bertiup pergi seumpama debu-debu
kian berterbangan. Hubungan sosial yang luas memadamkan perasaan
CINTA yang satu dan secara mendalam keasyikannya. Kesetiaan jarang
dihormati kerana CINTA yang satu mengheningi tiada terpaut kukuh di
dalam lubuk hati. Kesibukan waktu menyekat perasaan CINTA mengalir
deras dalam belahan jiwa. Malah CINTA yang lahir senang mati apabila
sesuatu yang terjadi di luar dugaan. Kemuncaknya dalam perCINTAan
banyak perkara boleh berlaku. Apatah lagi keadaan trend kini óne
night stand’ sudah menjadi perkara biasa untuk membuktikan CINTA
bila sampai ke paras kemuncaknya.

Yang pasti menjadi lumrah kegagalan dalam menggapai CINTA akan
membawa kesan secara tidak langsung kepada peribadi diri. Tahap
kekuatan dalaman jiwa terpulang pada diri untuk menghadapi konflik
perasaan yang sentiasa membayangi diri. Barangkali banyak sudah
muncul watak Laila Majnun yang tidak diketahui umum. Dan barangkali
juga dia berada di kanan dan kiri anda? Pandanglah manusia di
sekeliling dengan mata hati dan mata kasar. Pasti anda akan temui
sesuatu yang baru. Dan mungkin memberi makna. Tanyalah pada hati,
renunglah pada sebutir bintang. Di manakah letaknya CINTA dalam
kehidupan? Pandanglah pada senja, nescaya apa tersembunyi memberi
makna. Dan kita pasti berasa akan NILAI SEBUAH CINTA…

by: “chipmunk_malaysia”

Bisakah kita menukar rindu dengan cendawan selagi
musim masih hujan
Cerita yang lama menderas biar tumbuh di pedalaman
hati, padang lamun
Lalu kita bicara tentang masa depan yang terhampar
seperti lautan
Tentang burung-burung yang rindu pada pasangan

Anak kita adalah masa depan yang tumbuh dari bunga
Wajahnya kelopak cinta dari jantung yang terus menyala
Jika begini adanya, hidup terasa gampang di hela
Ada saja angin yang  menuntun ke arah dermaga

Bisakah kita menukar rindu selagi musim masih hujan
Pedalaman hati kita, biarkan cerita tumbuh merimbun
Lalu petik setangkai anyelir hiasi iya dalam jembangan
Biar jadi penanda bagi pelaut yang rindu pelukan

Surat Jemputan Maut Yang Terbiar Sudah
Posted on Wednesday, January 30 @ 23:55:35 MYT by greenboc
Fikir Sejenak Oleh annas

“Kamu yang bernama Pemimpin
suatu hari nanti akan dipersoalkan ?
pada suatu janji dan amanah
bertemankan warna-warna keliru
yang sudah lama hidup ketandusan
tertipu diatas nama pangkat dan kuasa gila
menangis berselindungkan air mata  dusta
sudah lupa pada segala
pada surat jemputan maut
yang sudah lama  menghampiri

kamu yang bernama rakyat
asyik bertepuk sambil menari
beriramakan alunan rentak sesat
ada yang pandai mengampu dusta
ada yang bijak berkata-kata buta
ada yang sudah lama dilenakan
diatas nama harta melata
hilang segala maruah
bermandikan kilauan mabuk kuasa
sudah hilang segala
hingga lupa
pada surat jemputan maut
yang sudah lama menghampiri
kamu dan kamu yang bergelar manusia
apa lagi yang kamu mahu
tak puas lagikah
atau
sudah lama terlena
dalam kemaruk-kemaruk sisa dunia
dalam barisan yang sudah semakin kucar
hilang rasa simpati hilang ukhuwah kasih
segalanya semakin kelam
teramat menyakitkan
hingga lupa
pada surat jemputan maut
yang sudah lama menghampiri
kamu
cuba sedarkan diri
pada perintah yang sudah lama dilupakan
pada larangan yang semakin dijajah
berani mendustakan segala amanah
hingga diri semakin derita
berpayungkan beban-beban dosa lara
hidup merempat pada cinta segala
yang sudah lama sarat
hingga lupa
saat-saat kematian sudah menghampiri
kamu
kembalilah
pada jalan-jalan kebenaran
sebelum
surat jemputan datang menghampiri
merobek segala maruah diri
sakit bukan kepalang
pedih yang tiada luka
teramat menyakitkan
tiada lagi teman disisi
apatah lagi pangkat dan kuasa
segalanya akan pergi
pasti

kamu
maut sudah menghampiri
sudah kita bersedia ?

Cantiknya seorang wanita itu sebagai GADIS

Bukan kerana merah kilauan lipstik

Pada bibir memekar senyuman kosmetik

Tetapi pada keperibadian terpelihara

Kelembutan kesopanan menghiasi jiwa

Cantiknya seorang wanita itu sebagai REMAJA

Tidak pada kulitnya mulus menggebu terdedah

Untuk menggoda pandangan nafsu mata

Tetapi pada kehidupan terjaga

Dari menjdai mangsa tohmahan dunia

Cantiknya seorang wanita itu sebagai HAWA

Tidak kerana bijak meruntun iman kaum Adam

Sehingga turunkan insan ke dunia

Tetapi menjdi pembakar semangat perwira

Menjadi tunjang perjuangan syuhada

Cantiknya seorang wanita itu sebagai ANAK

Tidak menjerat diri pada lembah kedurhakaan

Mengalir mutiara di kelopak mata

Tetapi menjadi penyelamat ibu bapa

Pada hari kebangkitan bermula

Cantiknya seorang wanita itu sebagai ISTERI

Bukan kerana peneraju kerjaya dalam rumahtangga

Tetapi sentiasa bersama

Menempuh badai disisi suami tercinta

Cantiknya seorang wanita itu sebagai MENANTU

Bukan kerana kemewahan dimata

Tetapi bijak dalam menjauhi persengkolan ipar lamai

Menjadi penghibur hati permata kehidupan

Cantiknya seorang wanita itu sebagai IBU

Bukan terletak pada kebangkitan anak

Dalam setiap pertelingkahan

Tetapi dibawah lembayung kejayaan

Membuai anak dikala suami menjalin impian

Cantiknya seorang wanita itu sebagai MERTUA

Tidak kerana berjaya meruntuh istana

Tetapi jalinan kasih sayang

Tulus hati mengagih kasih setara pada semua

Cantiknya seorang wanita itu sebagai NENEK

Bukan memberi harta dunia

Sehingga generasi lupa

Tetapi menjadi pada pendita

Menjaring teladan para anbia pada anak bangsa

Cantiknya seorang wanita itu sebagai WARGANEGARA
Bukan kerana menyandang puncak dunia

Tetapi bijak menangkis rintangan

Peka membela nasib dan maruah negara

Menjadi tulang belakang keteguhan semua

Cantiknya seorang wanita itu sebagai WARGA TUA

Bukan kerana jernihnya mutiara

Mengalir deras di kelopak mata

Tetapi senantiasa mengumpul cahaya

Menghitung hari dengan selembar nasihat

Cantiknya wanita itu sebagai INTELEKTUALIS

Bukan kerana menjadi sebutan

Sehingga menjulang keegoaan

Tetapi dalam mencari ilmuan

Menyala obor mewangi setanggi profesionalis

Cantiknya wanita itu sebagai MUSLIMAH

Bukan kerana keindahan paras rupa

Sehingga menjadi ingauan mata

Tetapi berpegang Akidah Solehah

Disebalik tirai jiwa

Mengandam rindu kekasih pasrah di atas sejadah

Mengharap keredhaan kehidupan awana

kiriman: “Mee mee”

Kemana hilang sajak-sajak rindu
Yang selalu kau kirimkan setiap waktu
tak henti-henti ditanya diri
menujumu atau menemu kesunyian kembali

aku kabarkan angin tentang sesuatu rasa di kalbu
Sepi ini meniup awan bercerita tentang aku dan kamu
ketika waktu kita bertemu dalam diam dunia yang semu
Kita tak saling marayu, hanya sebuah senyum kala itu

Seperti Cinta pertama yang ada
Kita saling bercerita bersama
Berbagi kisah dan mimpi berdua
Tentang ingin dan asa semua

Kupejamkan mataku
Kurasakan jiwaku melayang meninggalkan ragaku
kembali kuingin kugapai ke dalam ruang rindu bersamamu
Bersama Rindu yang selalu kutitipkan dalam hatimu


Best Regard
Erwin Arianto,SE
¤¨¤ë¥¦¥£¥ó¡¡¥¢¥ê¥¢¥ó¤È
———— ——— ——— ——-

berbianar cahya diufuk kegelapan
memecar semu dimasa semua hitam legam
    biarkan ia terpancar
    memudarkan kepekatan
    berbaur dengan berkas – berkas warna
bersatulah engkau dengan mereka
agar kau temukan keindahan
created by : Danial Abdulgani (Al – afgani)

‘Kita adalah kejadian yg sempurna tetapi apa yg kita lakukan selalunya tidak sempurna.’

Pandangan mata selalu menipu,
Pandangan akal selalu tersalah,
Pandangan nafsu selalu melulu,
Dan pandangan hatilah yg hakiki,
kalau hati itu bersih..

Lahir satu tarikh tidak dapat dipinta,
Mati satu tarikh tidak dapat ditunda…

Bila mata bertemu mata akan mula rasa kasih.
Bila hati bertemu hati akan mula rasa sayang.
Tapi….bila dahi bertemu sejadah akan terasa kebesaran Allah S.W.T

Menuntut ilmu adalah taqwa,
Menyampaikan ilmu adalah ibadah,
Mengulang2 ilmu adalah zikir,
Mencari ilmu adalah jihad,
(Al-Ghazali)

“Setiap kesulitan itu akan bertambah apabila dihitung-hitung tetapi akan hilang apabila kita tidak menghiraukannya lagi…”

Kalau kita berada di alam tabii yg indah, kita tidak terasa keindahannya, bukan ertinya alam ini tidak indah, tapi jiwa kitalah yg tidak indah..

Sesungguhnya mati jasad kerana roh,
Mati roh kerana tiada ilmu,
Mati ilmu kerana tiada amal
Dan mati amal kerana tiada istiqomah.

Kesedihan itu lumrah. Mengingatinya kembali mungkin tidak akan mampu menyembunyikan luka hidup tetap menilainya semula dengan mata hati berbeza mungkin mampu membuat diri meneruskan hidup dengan tabah.

Ilmu adalah teras kepada ajaran ISLAM, tanpa ilmu manusia akan terseleweng mengikut kehendak akal dan hawa nafsu sehingga akhirnya agama dijadikan mainan.

Agama menjadi sendi.
Pengaruh menjadi penjaganya.
Kalau tidak bersendi runtuhlah hidup
Dan kalau tidak berpenjaganya, binasalah hayat.
Kerana org yang terhormat itu,..
Kehormatannya itulah yang melarangnya berbuat jahat.

Inginkan mutiara selamilah lautan,
Inginkan bahagia tempuhilah penderitaan,
Inginkan kejayaan relailah pengorbanan.

.
Ketahuilah bahawa setiap kepahitan itu sebenarnya terkandung seribu kemanisan…
…..

“People wil forget what you said, people will forget you did, but people will never forget how you made them feel…”

Live needs sacrifice,
Sacrifice needs fight,
Fight needs courage,
Courage needs confidence,
Confidence determine success,
Success lead us to happiness…

Hidup memerlukan pengorbanan,
Pengorbanan memerlukan perjuangan,
Perjuangan memerlukan kekuatan,
Kekuatan memerlukan keyakinan,
Keyakinan menentukan kejayaan,
Kejayaan membawa kebahagiaan.
..

Hidup tanpa cita-cita adalah mati
Cita-cita tanpa usaha adalah mimpi

Ilmu penyuluh hati yg bersih,
Pengorbanan memerlukan usaha yg gigih,
Natijahnya kejayaan bakal diraih,
Kutuman senyuman akan tersurih,
Berkat doa kepada yang Maha Pengasih…

Diam merupakan sebuah keputusan hukum
Sebaik baik perkataan adalah yang sedikit
Namun dapat menjadi petunjuk
Keselamatan seseorang terletak pada penjagaan lisannya
Siapa yang manis lisannya pasti akan ramai kawannya

Yang lahir dari hati adalah keikhlasan
Yang datang dari akal adalah kewarasan
Bersatulah hati dan akal
Melawan nafsu yang bakal memusnahkan

Harta yang paling indah adalah sabar
Teman yang paling akrab adalah amal
Pengawal yang paling waspada adalah diam
Bahasa yang paling manis adalah senyum
Dan ibadah yang paling indah adalah kyusuk

Malu daripada lelaki adalah baik
Tetapi daripada perempuan lebih baik
Adil bagi setiap orang adalah baik
Tetapi daripada pemerintah lebih baik
Taubat daripada orang tua adalah baik
Tetapi daripada pemuda lebih baik
Dermawan daripada orang kaya adalah baik
Tetapi daripada orang miskin lagi baik

” Tunjangkan resah mu di dada solat, himpunkan peritmu di genggaman doa, tutupi kekecewaan dgn taqwa, dan nilailah kesucian dirimu melalui keikhlasan hati”.

Hidupkan Rasa Bertuhan… Suburkan Rasa Kehambaan…

by,
Myelina san..

Anak

Posted on: Februari 6, 2008

From “The Prophet” Kahlil Gibran, Lebanese Poet

ANAK

DAN seorang perempuan yang menggendong bayi dalam dekapan dadanya
berkata, Bicaralah pada kami perihal Anak.

Dan dia berkata: Anakmu bukanlah anakmu.
Mereka putra-putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka datang melalui engkau tapi bukan dari engkau,
Dan walau mereka ada bersamamu tapi mereka bukan kepunyaanmu.

Kau dapat memberi mereka cinta-kasihmu tapi tidak pikiranmu,
Sebab mereka memiliki pikirannya sendiri.
Kaubisa merumahkan tubuhnya tapi tidak jiwanya,
Sebab jiwa mereka bermukim di rumah masa depan, yang tiada dapat
kausambangi, bahkan tidak dalam impian-impianmu.

Kauboleh berusaha menjadi seumpama mereka, tapi jangan berusaha
membuat mereka seperti dirimu.
Sebab kehidupan tiada surut ke belakang, pun tiada tinggal bersama
hari kemarin.
Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.

Sang Pemanah membidik tanda sasaran di atas jalan nan tiada
terhingga, dan Dia menekukkan engkau dengan kekuasaan-Nya agar anak
panah-Nya dapat melesat cepat dan jauh.

Meliuklah dengan riang di tangan Sang Pemanah.

Sebab sebagaimana Dia mengasihi anak panah yang melesat, demikian
pula Dia mengasihi busur nan mantap.

CINTA

LALU berkatalah Almitra, Bicaralah pada kami perihal Cinta.

Ditengadahkan kepalanya dan memandang pada orang-orang itu, dan
keheningan menguasai mereka. Dan dengan suara lantang dia berkata:

Pabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia,
Walau jalannya sukar dan curam.
Dan pabila sayapnva memelukmu menyerahlah kepadanya.
Walau pedang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya bisa
melukaimu.
Dan kalau dia bicara padamu percayalah padanya.
Walau suaranya bisa membuyarkan mimpi-mimpimu bagai angin utara
mengobrak-abrik taman.
Karena sebagaimana cinta memahkotai engkau, demikian pula dia kan
menyalibmu. Sebagaimana dia ada untuk pertumbuhanmu, demikian pula
dia ada untuk pemanakasanmu.

Sebagaimana dia mendaki kepuncakmu dan membelai mesra ranting-
rantingmu nan paling lembut yang bergetar dalam cahaya matahari.
Demikian pula dia akan menghunjam ke akarmu dan mengguncang-
guncangnya di dalam cengkeraman mereka kepada kami.
Laksana ikatan-ikatan dia menghimpun engkau pada dirinya sendiri.

Dia menebah engkau hingga engkau telanjang.
Dia mengetam engkau demi membebaskan engkau dari kulit arimu.
Dia menggosok-gosokkan engkau sampai putih bersih.
Dia merembas engkau hingga kau menjadi liar;
Dan kemudian dia mengangkat engkau ke api sucinya. sehingga engkau
bisa menjadi roti suci untuk pesta kudus Tuhan.

Semua ini akan ditunaikan padamu oleh Sang Cinta, supaya bisa
kaupahami rahasia hatimu, dan di dalam pemahaman dia menjadi sekeping
hati Kehidupan.

Namun pabila dalam ketakutanmu kau hanya akan mencari kedamaian dan
kenikmatan cinta.

Maka lebih baiklah bagimu kalau kaututupi ketelanjanganmu dan
menyingkir dari lantai-penebah cinta.

Memasuki dunia tanpa musim tempat kaudapat tertawa, tapi tak seluruh
gelak tawamu, dan menangis, tapi tak sehabis semua airmatamu.

Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tiada
mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri.
Cinta tiada memiliki, pun tiada ingin dimiliki;
Karena cinta telah cukup bagi cinta.

Pabila kau mencintai kau takkan berkata, “Tuhan ada di dalam hatiku,”
tapi sebaliknya, “Aku berada di dalam hati Tuhan.”

Dan jangan mengira kaudapat mengarahkan jalannya Cinta, sebab cinta,
pabila dia menilaimu memang pantas, mengarahkan jalanmu.

Cinta tak menginginkan yang lain kecuali memenuhi dirinya. Namun
pabila kau mencintai dan terpaksa memiliki berbagai keinginan,
biarlah ini menjadi aneka keinginanmu: Meluluhkan diri dan mengalir
bagaikan kali, yang menyanyikan melodinya bagai sang malam.

Mengenali penderitaan dari kelembutan yang begitu jauh.
Merasa dilukai akibat pemahamanmu sendiri tenung cinta;
Dan meneteskan darah dengan ikhlas dan gembira.
Terjaga di kala fajar dengan hati seringan awan dan mensyukuri hari
haru penuh cahaya kasih;

Istirah di kala siang dan merenungkan kegembiraan cinta yang meluap-
luap;

Kembali ke rumah di kala senja dengan rasa syukur;

Dan lalu tertidur dengan doa bagi kekasih di dalam hatimu dan sebuah
gita puji pada bibirmu.

by:  Kahlil Gibran

Kemarin berlalu seperti angin melintasi lembah savana Afrika
Semilir meniup daun-daun pohon-pohon yang jarang
Lembut menyibak ilalang sambil melayangkan bunganya
Menaburkan benih harapan agar tumbuh di musim hujan mendatang
Kehadirannya bagai airmata yang menenangkan jiwa yang resah
Bagai kesejukan embun yang menetes di pagi hari
Seperti harum pinus dan suara sungai yang damai
Seindah alam dan janji Tuhan kepada pecinta-Nya
Kehadirannya mengobati luka hatiku yang lama meradang
Menghilangkan pertanyaan-pertanyaan yang menyita tidurku
Mengisi kehampaan ruang batin yang dikosongkan kesendirian
Mewarnai kelabu dinding kehidupanku
Aku sesalkan datangnya pagi ini
Saat kurindukan kedamaian senyumannya
Kesyahduan tatapannya
Kelembutan tuturnya menyentuh lubuk hatiku
Namun aku paksakan untuk bangun dan pergi dalam hening sesaat
Yang hilang ketika kulihat sesosok pemuda ditikungan perjalananku
Wajahnya tegang dengan mata yang lelah seolah menatap prahara menjelangnya
Dengan bibir mengatup erat seolah menahan pedih luka tersaput air
Kusapa dia dan kutanya kabarnya
Airmatanya menetes seketika tuturnya padaku
Pagi ini dia kehilangan seseorang yang sangat dicintainya
Bersama dengan yang dia harapkan akan menjadi bunga di taman hatinya
Seorang gadis yang dia puja dan sayangi sepanjang hidupnya
Yang menghibur di kala sakitnya dan menemani di kala senangnya
Yang menghangatkan malamnya dengan cinta
Dan mendinginkan siangnya dengan kasih sayang
Hari ini semestinya hari yang bahagia buat mereka
Sembilan bulan menanti penuh harap
Selama itu pula mereka rasakan kebahagiaan dalam menjelang kebahagiaan
Akan hadirnya buah cinta mereka ke dunia
Namun kehendak Yang Maha Kuasa menentukan yang tidak disangkanya
Sehingga dia kini menanggung derita kesendirian
Derita kehilangan dalam semesta pertanyaan
Akan letak keadilan yang tidak dia temukan
Aku tidak dapat berkata lain padanya
Kecuali bahwa Allah Maha Kasih kepada seluruh makhluk-Nya
Allah telah menambahkan dua penghuni surga dengan keadilan-Nya
Dan dia harus berusaha untuk menambah satu lagi penghuninya
Aku tersadar
Betapa rapuhnya kebahagiaan yang dihadirkan cinta
Ketika yang kita cintai tidak abadi
Ketika yang kita cintai bukanlah milik kita sendiri
Ya Allah
Bahkan diriku bukanlah milikku sendiri
Hanya Engkau Khaliq yang Hayyul Qayyuum
Maka hindarkanlah aku mencinta melebihi cintaku pada-Mu
Karena tiada yang abadi melainkan Engkau
Engkau telah menciptakan aku dan aku hanyalah abdi-Mu
Aku berjanji setia kepada-Mu dengan segenap kuasaku
Lindungilah aku dari akibat buruk perbuatanku
Aku kembalikan pada-Mu seluruh kebahagiaan dari-Mu
Dan aku kembali kepada-Mu dengan segenap dosaku
Maka ampunilah aku Tuhanku
Karena tiada yang berhak mengampuni selain Engkau
Sesaat kulihat kekasihku di ujung jalan itu
Tersenyum dalam kesejukan keabadian
Lalu menghilang bagai kabut disinar mentari
Yang membawaku kembali ke dalam kekinianku
Kasihku
Kunantikan cintamu dalam keabadian..
..di sisi-Nya
Soerabaia, November 22nd, 1999

Ex animo,
Anofan Shoidal Nur

assalamualaikum

tangan ku hulur
mengharap ruang sekecil-kecilnya
biar lusuh mahupun kontang
asalkan cukup mengisi
mayang yang berseni
dan ukiran yang raih seri

~ asz_oney ~

memandang rembulan dengan taburan sinar keinginan
aku ingin kau tatap rembulan
terang cahayanya seterang cinta kita yang menerang langit
Membawa berkah dalam menajalani hidup yang rumit

Menatap rona wajah sendu itu
Sebening embun dini hari
Tatap matamu itu memanja rayu
Nyelinap dalam kalbu

mencintamu bait-bait cintaku yang kekal
Ku hembus di dadaku sebagai takdir berbekal
aku serahkan diri juga cinta
menempuhi goda sepanjang usia dunia

Berserah ketulusan menerima.
mengalirkan kesah pada laut keabadian cinta
Mencoba membuang cinta lain di relung nuansa
Karena cinta adalah dirimu bidadariku

Depok, 3 February 2008
Erwin Arianto

Best Regard
Erwin Arianto,SE
えるウィン アリアンと
———— ——— ——— ——-

Adakah lagi yang lebih pilu selain puisi yang terlahir
dari airmata
Ketika jangkar terangkat dan ombak menghantam seluruh
cerita
Pantai dan dermaga seolah ibu dan kakak perempuan
membuang muka
Sapu tangan tiang kapal mengirim haru ke langit
kelabu, siksa

Lalu segalanya gulita di antara riuh ombak dan cuaca
yang mengamuk
Merobek-robek kain layar berderak-derak hati yang
terserak
Seketika itu merapuhlah waktu jalan nafas yang
semakin tersaruk
Kita sudah tak lagi megukur getar karena musim yang
jungkir balik

Adakah lagi yang lebih puisi selain pilu yang
melahirkan airmata
Ketika nasib terputuskan sekian detik sebelum melepas
tali dermaga
Lapar dan dahaga seolah literan arak api memanggang
raga
Air di tempayan tercampur garam bagaimana lagi
meminumnya

Banda Aceh, 4 Februari 2007

dino f. umahuk

*Terinspirasi oleh puisi Dedy T Riyadi : Seperti
Pacar Pertama

Dalam meniti hari-hari mendatang
Aku takut untuk meneruskannya
Adakah aku akan berhadapan
Dengan kegagalan dan seribu penyesalan…

Telah banyak adegan ku tonton
Ku rasa diriku sentiasa dicabar
Untuk melakukan sesuatu
Bagi kebaikanku dan semua
Namun apalah daya diriku ini
Sikap suka mengalah masih menguasai diri

Namun…aku masih bersyukur
Masih ada insan yang sudi menasihatiku
Memberi perangsang dan dorongan
Serta mengembalikan keyakinan yang telah pudar.

Kini…aku semakin mengerti
Apakah pengertian penhidupanku di dunia ini
Bukanlah semata-mata sebagai makhluk sahaja
Tetapi aku juga harus tabah
Kerana sesungguhnya perjalanan hidupku masih panjang
Tenagaku amat diperlukan
Ikrarku…untuk berusaha demi nusa dan bangsa
serta menjadi warganegara berguna

Semakin aku menjalani penghidupanku
Semakin matang aku jadinya…
Akan ku pastikan penghidupanku ini
Secerah matahari dan bintang di langit
Namun aku tetap mengakui
Segala yang terjadi adalah ketentuan Ilahi
Maka…aku terima penhidupanku ini
Dengan perasaan redha
Serta hati yang terbuka.

by: syazie1979



		
jika ia sebuah cinta…
ia tidak mendengar…
namun sentiasa bergetar….
jika ia sebuah cinta…
ia tidak buta
namun sentiasa melihat dan merasa..
jika ia sebuah cinta…
ia tidak menyeksa
namun sentiasa menguji
jika ia sebuah cinta…
ia tidak memaksa
namun sentiasa berusaha…
jika ia sebuah cinta…
ia tidak cantik
namun sentiasa menarik…
jika ia sebuah cinta…
ia tidak datang dengan kata-kata
namun sentiasa menghampiri dengan hati…
jika ia sebuah cinta…
ia tidak terucap dengan kata
namun sentiasa hadir dengan sinar mata..
jika ia sebuah cinta…
ia tidak hanya berjanji..
namun sentiasa cuba memenangi..
jika ia sebuah cinta…
ia munkin tidak suci..
namun sentiasa harmoni…
jika ia sebuah cinta…
ia tidak hadir kerana permintaan
namun hadir kerana ketentuan…
jika ia sebuah cinta…
ia tidak hadir dengan kekayaan dan kebendaan…
namun hadir kerana pengorbanan dan kesetiaan…

Sejak Mula

Sejak mula aku tak berutang apa-apa selain rindu
Lalu kau menyusur sunyi seolah jarak adalah muara
Padahal kita sama tahu selain nasib geladak perahu
Tak ada jembatan menjangka rupa

Sejak mula tak tutipkan apa-apa selain kata
Lalu kau mengigau panas dingin seolah puisi adalah
tuba
Padahal kita sama tahu seisi rimba takan mungkin
menjadi rima
Meski lolongan kau kirimkan serupa daya

Sejak mula aku tak menanam apa-apa selain kelu
Lalu kau menjadi sunyi seolah aku awan kelabu
Padahal kita sama tahu selain puisi tak lagi yang
lebih merdu
Meski nasib masih terkurung di musim pilu

Banda Aceh, 3 Februari 2008

Dino Umahuk: metafora dari laut
http://www.birahilaut.multiply.com

Salam dihulur dari hamba mu ini
Yang hina dan bukan terbaik
Alpa selama nafas ditarik
Punya hati yang busuk dan terbalik

Salam wahai Pencipta Alam
Rayuan ini tidak dipermudahkan
Keluh tidak didengar endahkan
Titisan suci tidak di terima olehMu

Lalu apa lagi daya menjerut hati
Mengharap setitis ruang biar ku rasakannya
Walau senipis daun kari di kali
Akan ku tadah syukuri nikmatnya

Namun mungkin belum sekukuh
Ataupun sehebat usaha mengharap kasih Mu
Mungkin ada penyebab salah laku atau
Perkara kelabu yang aku keliru
Dan buta dihati menutup mata

Akan tetapi Wahai Pencipta ku
Ku langkah kan kaki kanan
Terus mengharap dibukakan
Di beri utusan anak kunci sebagai bekalan
Biar di pimpin mencari pintu
Dan bertatih kembali menyebut namaMu

Wahai Pencipta ku
Ku mohon terus di kejap pegangan
Membiarkan aku leka di dalam rangkulan
Dan di selindung dek hati jahat ku
Moga bersemadi di pintu redha Mu
Untuk kini dan selama mahu Mu
Amin………..

by: asz_oney

Bayu lembut menyapu pipi

Matahari terbenam di sebalik bukit

nun jauh di sana

Oh!………..Gelisahnya kalbuku

Memandang jauh ke hari muka

Esok sentiasa ada

Sanggupkah aku bersabar, menunggu……

Meneruskan perjalanan yang penuh pancaroba?

Fikiranku merantau, melayang, mencari jawapan!

Bergema kembali…………kata-kata kosong

Irama merdu memberi ilham

Keyakinan! Usaha! Ketabahan!

Membawa kejayaan

Roda hidup sentiasa bergerak

dengan perlahan aku mengorak langkah…….

mencari tujuan dan impian……..

Hari ini berlalu, esok menjelma

menyambut kedatanganku dengan sebuah

HARAPAN……….

Terus mengejar………mengabaikan masa

Terus mencari………..

Sebatang kunci……….ke pintu cita-cita!

by: “syazie1979”

Apakah laut tak lagi berombak
apakah langit tak lagi biru
mengapa tak ada lagi senyum di antara kita
tak ada tawa

syurga mimpi kita
selaksa angin yang berlalu
isyarat mati keabadian

Apakah angin enggan berhembus
bersama hilangnya cerita-ceritamu

Sahabat
kau tetap mentariku
yang selalu menghangatiku
kau tetap embun yang menyejukkan jiwaku

dalam sejuta kerinduan tentang kau
sahabatku…

1 Feb 2008,
Myelina san…

Aku ingin tersenyum kepadamu hari ini
walaupun aku tidak dan belum pernah melihat wajahmu
membayangkanmu adalah seperti usaha
menjaring angin namun semoga kau dapat menangkap senyumku.

Dan aku mahu berkata cuaca di kotamu indah
kerana walaupun mendung betah di atap rumahmu
aku tetap ingin mengajakmu menikmatinya dengan senang.

Aku ingin menyentuh jemarimu saat ini
walaupun kau ribuan batu jauhnya
kerana jarak tak pernah
menggagalkan sukacita yang keluar dari hatimu.

Dan sebelum kuakhiri
anggaplah aku telah memelukmu dengan kata
sebuah pelukan dariku
untuk mengawali hari ini dalam kehangatan.

by: myelina

Melangkah dan berjalan
berjalan dan terus Berjalan
Dan kini telah kutapaku jejak-jejak kehidupan
semakin banyak pahit, manis yang membangkitkan

Telah terjelajahi
Suka, Duka, Hitam dan putih
yg membuat hidupku kian bermakna
membawa warna dalam hidup menjadi dewasa

Terkadang ku terhempas di dalam duka
namun aku tetap untuk kembali tegar
Terkadang ku terbawa dalam suka
itu membawa pesona yang tak teringkar

Terus ku lewati jejak jejak hidup
memberi warna dalam berbagai lukisan redup
mencoba memahami peran hidup ku didunia
Mencoba berarti bagi semua

aku bersyukur
dengan duka, nestapa, dan ceria yang kualami
walau kadang semua sering tak terpahami
membuatku mencoba lebih mengerti akan takdir ilahi

mencoba memahami takdir hidup dipilih atau memilih, seperti kata bidadari
Depok 28 January 2007
erwin Arianto


Best Regard
Erwin Arianto,SE
¤¨¤ë¥¦¥£¥ó¡¡¥¢¥ê¥¢¥ó¤È
———— ——— ——— ——-

Angguk – Angguk, Geleng – geleng

Ahli fikir

Apa khabar teman-teman sefikir

*Angguk angguk geleng geleng
Tunduk tunduk ikut telunjuk
Iya Iya saya saya
Kiri Kanan Ikut saja
(Ulang semula)

Kita tunduk pabila diketuk
Bila terantuk tak usah dipujuk
Biarpun dipatuk
Ingat pesan atuk…sabar sabar sabar sabar…

Tak apa tak kisah
Tak rugi tak mati
Tak ambil peduli
Berserah dan pasrah
Biar ada dah dijampi
Ada pasang, surut-naik

Dikerah dijajah
Terus nista dipenjara
Jadi hamba jadi kuli
Jadi batu diam diri
Kita tunggu kita lihat
Kita nanti kita perhati
Jgn merungut biar berjanggut
Diam akur
Kita mesti patuh
Acuh tak acuh endah tak endah
Buat lawak bodoh terlampau
Biar kita melopong
Biar kita menganga
Biar mereka buat apa mereka suka
Biar saja
Jangan melawan
Jangan membantah
Janganlah degil kena ikut perintah
Kena banyak diam
Biar apa orang kata
Kita tawa dalam duka
Kecut takut
Kalut kolot
Terkunci mulut
Bergaduh bertutur
Kalah sabung menang sorak
Tiba masa kita gerak

Ulang * 2 kali

Dik mari dik
Ya kak
Nama adik siapa?
Liya…
Adik tahu nyanyi tak?
Tahu…
Mari ikut kakak nyanyi sama-sama…

Angguk angguk geleng geleng
Tunduk tunduk ikut telunjuk
Angguk angguk geleng geleng
Tunduk tunduk ikut telunjuk

Iya Iya saya saya
Kiri Kanan Ikut saja
Iya Iya saya saya
Kiri Kanan Ikut saja

Tolak Tambah
Kali ganda
Hitung kira segala nista
Maju mendung
Tinggi rendah
Berapa nilai
Nilai bangsa

Kak…Sekupang ke?
Dua kupang ke? Tiga kupang?
Sawah sebendang
Ladang sebidang
Tanah sekangkang
Pohon sebatang
Kerana uang semua hilang hanya tinggal shelai sepinggang

Yang jening yang lebai yang pandir yang luncai
Yang angannya tinggi yang dibuai mimpi yang sawah terjual
Maruah tergadai

Kamu mahu lagi?

Ahli fikirrrr…sabar, sabar,sabar, sabar,sabar, sabar
* * *

Artist: Ahli fikir

Casanova

Meniduri

Nyawa yang aku puja

Melepasi tuhan

Yang tak pernah

Adalah ternyata

Satu bohong

Membunuh aku

Terlalu dalam

Meluahkan

Lelakiku dari dusta

Dan madah indah

Menyiksakan jiwa

Dan roh yang ada menjerit

Di dalam penjara

Yang penuh dengan

Nikmat sementara

Pateranya

Adalah segala yang termimpi

Dalam jemala

Menderu meminta

Akan raganya

Aku dahaga

Kuminum semua airnya

Dan sesudah

Aku semakin haus

Dari sebelumnya

Lama kelamaan

Aku lemas

Didalam laut

Yang aku cipta

Juan Einriqie

JUAN EINRIQIE
Woodlands Crescent
Blk 787D #02-42
Singapore 734787
Tel : (+65) 91010339

Mencintaimu Selamanya

Tidak terhela

Nafas yang tertinggal

Menjejari pinta

Untuk mendakapmu

Sekujur nyawa

Terlalu jauh

Namun terlalu dekat

Teramat dalam

Terpaku

Dimateri

Sekian cinta yang kau sisakan

Aku menerjah semua

Dengan separuh nyawa

Kusirna

Sarat kaki melangkah

Tanpa nyawa ada di sebelah

Dan pada setiap kau datang

Kenapa ada airmata

Dan saat kau pergi

Kenapa aku mati

Mencintaimu lebih dari diriku

Tiada cukupkah itu

Untuk kutafsir

Akan betapa aku mencintaimu

Apa sekiranya ada yang ingin

Akan hati ini

Lantas terpaksa aku memberi

Sedang sanya ia

Terpateri dengan namamu

Shamira adoree

Jawaplah akan tanyaku

Sedarkanlah aku

Yang aku tidak ada lagi

Di dalam hatimu

Hanya aku

Yang merasakan ini

Dengan apa yang aku rindu

Dengan apa yang tertinggal

Untuk ku

Tidak sesaat

Dari waktuku

Tiada kamu

Dalam hati ini

Biar ku cuba

Untuk menipu

Yang aku membencimu

Aku sedar

Yang sanya

Aku terlalu mencintaimu

Terlalu merinduimu

Bodohkah aku

Kerana terlalu menyayangimu

Sedangkan kau tidak pernah

Merasakan serupa

Apa yang aku rasa

Mengertikah engkau

Tentang hakikat hidup

Dan erti bahagia

Tanpa cinta

Apalah yang ada pada semua

Segalanya tiada makna

Biarkanlah aku

Dengan apa yang aku ada

Aku berjanji

Pada bulan yang setia

Pada malam

Dan suria pada siang

Hanya kematian

Yang akan mematikan harapku

Membunuh semua rinduku

Dan cintaku

Akan hidup sepanjang

Dunia berwaktu

Juan Einriqie

p/s: Suatu hari kau kan mengerti,

betapa dalam aku mencintaimu,

dan nanti Dia akan bercerita,

tentang aku padamu,

kenapa aku,

terlalu menyayangimu,

walau kau mungkin bukan milikku kini.

JUAN EINRIQIE
Woodlands Crescent
Blk 787D #02-42
Singapore 734787
Tel : (+65) 91010339

Aku bukanlah Seorang Pendongeng
terkadang aku hanya diam
Tak ada kata diam dalam seribu bahasa
mencari titik terendah dalam pikiran yang dalam

Aku bukanlah seseorang yang berarti
ketika waktu aku bagaikan seorang kiyai
mengobral kata dengan makna selangit
membuat kesombongan berkibar melebihi langit

Aku bukanlah seorang yang memahami
hingga pada saat ku coba mencari arti
dengan merenung dalam diamku
Dan terdapat hati yang tidak dapat dimengerti

Aku bukanlah seorang pertapa
maka aku harus rendah hati
Tak bolah aku bersombong hati
Karena aku bagai buih kan hilang dan berganti

Aku hanya ingin berkarya
hanya kususun kata kata tak bergema
melambangkan kekosongan sebuah jiwa
walau terkadang tak berarti dan tak bermakna

Tapi tak lelah aku untuk terus belajar
Mencari makna akan hidup dan kehidupan manusia
kendati hari ini aku seorang pembelajar
menuju pemahaman akan makna hidup di dunia

Dalam pembelajaran yang tak pernah henti
Erwin Arianto, depok 28 January 2008


Best Regard
Erwin Arianto,SE
¤¨¤ë¥¦¥£¥ó¡¡¥¢¥ê¥¢¥ó¤È
———— ——— ——— ——-

Ku cari cinta yang hilang
Di puncanya
dan di hujung nya
Namun yang ku temui… buntu…

Ku rawat parut semalam
Dengan balutan airmata
Pedih dan lirih
Hati ku terdampar di pantai siksa…

Ku singkap sejarah semalam
Pada bayang hitam yang kalut
Dengan hati berteman akal
Bersama cahaya redha…
Lalu ku alas dengan takwa…

Dalam selubung putih aku bersujud
Buntu ku temui jawapan
Siksa ku berganti tenang
Cinta ku kembali bertaut
Hatiku kembali berbunga
Dengan kalamnya aku berteman….

karya asli: Alhaddad

Di keheningan sebuah Malam
Sejalan waktu yang kian lalu
kucari selalu hati yang kau janji dulu
Masih kah kau ada disana menanti cinta

Diatas rindu yang membalut Tak terperi
Aku terus bergelut dengan mimpi
Mimpi memberi lebih berarti
kureguk hening kumampatkan sepi

sesekali teringat di waktu bergulir
ada sesal tertinggal
ada perih Terukir
ada cinta meninggal

kini sang mentari mengintip pada sela mega
kuhembus seluruh nafas penyesalan, kupejamkan mata
Kulupakan semua kenangan yang berbaris
kubiarkan Seluruh rasa larutkan seluruh inderaku

Sembunyikan aku
sembunyikan di antara deru waktu
sembunyikan dari belaian lembut itu
Sembunyikan Atas cinta yang telah berlalu

24 January 2007


Best Regard
Erwin Arianto,SE
¤¨¤ë¥¦¥£¥ó¡¡¥¢¥ê¥¢¥ó¤È
———— ——— ——— ——-

Tajuk-tajuk Sastera

Alhaddad's Blog Stats

  • 25,570 kali dilawati

Alhaddad’s arkid

Alhaddad’s kalendar

November 2020
I S R K J S A
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Pengumuman Alhadaddad’s

Kebanyakan artikel di dalam blog ini adalah dari sumber-sumber lain. bukan sepenuhnya karya asli penulis. Harap maklum.

Top Clicks

  • Tiada

Flickr Photos