Dunia Sastera

Arkib Pengarang

Kemarin, aku bertemu dengan rindu
ia tersenyum malu, sungguh, ia terkejut bertemu denganku
pipinya merah jambu bersemuka meskipun tubuhnya kini membiru
urat letih membayangi wajahnya
seperti ada cinta mendentami hatinya
kupikir ia sudah terbang, kembali pada Tuhannya

“Mengapa tak kau selimuti dirimu dengan pasrah
dan pulang pada Tuhanmu?” tanyaku pada rindu

“Aku tak tahu.” jawab rindu
“Rasanya ini tak semudah yang kau bilang dulu.”

Terakhir kami bertemu, ia sesat jauh ke langit ketujuh
mengetuk pintu arasyNya sepenuh cita sepenuh cinta
tak sedetikpun ia menoleh ke bumi yang dipenuhi
berbunga-bunga cinta yang merasuk, membusuk dan lapuk

Lalu kuhitung satu, dua, tiga umurku
namun tak kudapati waktu di mana aku pernah bertemu dengan
rindu, ia kini begitu membiru
dan aku tak tahu bagaimana harus berlaku

Duhai!
rinduku sayang, rinduku cinta,
aku kehilangan daya untuk mengeja
tak kira bagaimana cinta harus kusapa

Rindu menangkap sanubariku
bersama matahari dan bintang yang tiba-tiba jatuh

“Tak apa.” rindu tersenyum seolah-olah tahu
“Tunjukkan saja aku ke mana air mengalir, di mana fajar beredar.
Mungkin aku kehilangan sayap, tapi aku punya bumi untuk berpijak.”

Kulepas genggamku pada rindu
lalu berjuta kupu-kupu terbang ke langit biru
mereka tampak begitu rindu

apakah mereka menjemput rindu?
akankah mereka membawa rindu?
ataukah mereka jelmaan rindu?

Tidak!
lalu siapa yang akan menjala recik-recik air
dan menebar hangat mentari sang fajar?
meskipun hanya sebongkah rindu yang membiru,
ialah yang mengajarkanku artinya bertahan hidup!
: bukan membiarkan cinta merajam-rajam rapuhnya jiwa,
sekadar mengukir waktu dengan gemulai yang dijelang beku
berteman lidah yang kelu
maka cinta yang merasuk kelak membusuk dan lapuk
inilah bukti sejatinya apabila rindu menjelma dan pasrah yang kian
merekah

Langit telah penuh dengan kupu-kupu
terdengar lagi senandung yang dulu
itulah dia rindu!

kiriman: syazie

Advertisements

SIAPA???

Posted on: Mac 2, 2008

Dinihari!!!
Kerinduan mula terasa
kisah silam telah tenggelam
Tadi siang berlalu perlahan
Ku kumpul setiap kerinduan ini
Yang terlantar dipuncak sepi
Ya!!! siapa yang ku layari untuk ini???
Siapa yang mengikat jiwa ini???
Siapa yang yang menebarkan rindu ini???
Wajah siapakah yang ku rindui
Manakan bisa ini
Tidak pernah ku kenal
Yang datang mencuri ketenangan
Memberi satu kekuatan
Memberi satu sinar
Memberi satu semangat
Tapi sungguh menyesakkan
Walau apa pun
Terima kasih sayang
Bertamu tanpa rupa suara dan wajah
Itulah misterimu
Tapi aku pasti
Suatu ketika kau pasti
Bertandang untuk ku….
Setia ku menanti
Walau pun satu penyiksaan….

Nukilanrasa
Sha…..

Demi usia ku
sesungguhnya orang yang mabuk kerinduan
dicela kerana menangisi orang yang di kasihinya
dengan deraian air mata yang bercucuran deras.
ia berkata:-
“mengapa engkau menangis
setiap kali melihat kuburan
yang ada di antara liwa dan dakkak?”
maka ku jawab dia
bahawa sesungguhnya tangisan ini
merupakan ungkapan kerinduanku
maka biarkanlah aku menangis
kerana di sinilah letak kuburan saudaraku…..

masa meratapi bekas peninggalan kejayaan
sesudah tangisan mata
kerana tiada gunanya menangisi bayangan dan rupa
sungguh aku melarang mu
dan tidak segan-segan untuk memberi nasihat
agar jangan cuba-cuba tidur
di antara taring dan cakar singa
aduhai, sekiranya masa
menebus segalanya
dan menebus “khilaf dengan siapa pun
di antara manusia yang di kehendaki……

Nukilanrasa
Sha….

Sekeranjang Sampah, Seranjang Sumpah

aku mendambakan pagi semenjak kucium aroma rambutmu sehabis keramas. aku mendambakan rumah dan pekarangan dan pohon rambutan dan bau tanah basah. aku membayangkan setiap pagi mengosongkan sekeranjang sampah yang lelah seharian menampung limbah resahku, membuangnya ke lubang kompos di pekarangan belakang. aku mengenang sajak-sajak yang hilang, sejak uban dan lahat mulai membayang.

di ranjangku, bau wangi sabun cuci dan aroma cinta menguar dari sprei yang baru diganti. di sana kukumpulkan remah-remah mimpi yang kau tinggalkan semalam, juga sumpah serapah dan janji-janji. kadang-kadang kutemukan pula sumpah suci dari langit, sejak aku mengenal samadi yang kukaji dari sela-sela gigimu.

di seberang jendela, cuaca masih memijah telur-telur katak. langit sempoyongan sebagaimana terbaca dalam liukan bayang-bayang. mentari bermalasan sepanjang hari, hibernasi akibat letih terbakar api dalam diri. inilah cuaca yang tak kusuka, bikin ranjang kian gigil saja. aku hanya bisa menebah-nebah kasur yang beku, berharap rontok sampah serapah dan limbah gundah sisa abad-abad yang lalu.

demi ranjangku aku bersumpah menempuh jalan yang takkan kusesali. tetapi pagi masih dini, hujan belum lagi pergi. dan di dapurku masih menunggu sekeranjang sampah, penuh hasrat dan mimpi-mimpi basi.

pada tiup mesra angin dipungut waktu
Satu jengkal hati menuju langit
mungkin senyummu sayang di balik mega
menyambut pagi ceria serupa matahari

tapi hatiku tetap menyukai kesunyian
melukis bunga bidadariku di helai udara
kuceritakan padamu tentang Kisah tlah lewat
Tentang Cintaku pada seorang dara jelita

bahagialah Aku kini ada yang merindukanku
pada waktu lalu tercatat nama terpahat wajah
bahagialah aku kini ada yang mencintaku
walau terkungkung aku dalam bayang lalu penuh kasih sayang

Pada bibirmu cinta apa yang terucap
doa atau keinginan menjadi Sejati
marilah, marilah masuk kedalam hati ku cintaku
pahatkan indahnya cinta mu dalam hatiku

itulah cinta begitu merahasia
tak dapat diterkakemana menyuka
Biarlah lebur semua lalu dalam doa
menerima takdir sebagai suatu keihklasan hati

Depok, 13 February 2008
Erwin Arianto


Best Regard
Erwin Arianto,SE
¤¨¤ë¥¦¥£¥ó¡¡¥¢¥ê¥¢¥ó¤È
———— ——— ——— ——-
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY

perahu kecilku kini ditengah badai
terombang ambing dalam rasa dan kenangan lalu
berapa lagi jeram kenangan harus diarungi
berapa lagi gelombang ingatan harus dihadapi

berapa jauh lagi ingatan ini akan menghantui
seperti kerling mata, atau senyum terluka
memberi berbagai tanda tentang hati yang meluka
dan kuhentikan pelayaran cinta lalu ku ini

betapa pada keluasan samudra ini dan  kecipak air
remang cahaya mengundang gerimis mengiris
angin menampar-nampar pipi menyadarkan aku dari mimpi
kabut memutih lukisan tentang engkau yang telah pergi

ada yang tersayat begitu dalam oleh keinginan itu
ada yang tersayat begitu dalam di hatiku
biarlah kini kau pergi dengan luka yang tertinggal
nyatanya belum juga aku bisa melupakan cinta itu

cukupkan sampai di sini semua ini
sudah habis waktu ku dan hentikan semua ini
helai demi helai terbuka rahasia demi rahasia
Kurayakan pesta kemenangan merayakan kekalahan diri
karena aku lebih berhak atas diriku sendiri

Depok, 13 February 2008
Erwin Arianto

Best Regard
Erwin Arianto,SE
¤¨¤ë¥¦¥£¥ó¡¡¥¢¥ê¥¢¥ó¤È
———— ——— ——— ——-
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY

diana izatti <dianaizatti@ yahoo.com> wrote:

aku rindu guraumu
aku rindu tawamu
aku rindu suaramu
aku suka semangatmu
bebas tapi tegas
tak sangka
hariku sepi
tanpa hadirmu…

“yang benar dan hak itu datangnya dari ALLAH, yang lemah dan sering khilaf adalah kita makhlukNya. Tiada yang lebih hebat daripadaNya di muka bumi ini kerana kembali kita kelak kepadaNya dalam fitrah yang sama; hamba.”
Zachary Vearn <zachary_vearn81@ yahoo.com> wrote: sesungguhnya berat ujian itu
terasa kosong nilai hidupku ….
inginku kembali kewaktu itu …
saat aku masih bersamamu …
namun kuharap kuasa yang esa…
tabahkan hatiku seperti dia ..
agar sepanjang waktu ini ku bisa …
menahan rindu yang amat sangat padanya ….
diana izatti <dianaizatti@ yahoo.com> wrote:
pak cik Zach..
it is time
to let him go
without tears
with love in heart…
it is just the
perfect time..
miss him so much!

Tajuk-tajuk Sastera

Alhaddad's Blog Stats

  • 22,699 kali dilawati

Alhaddad’s arkid

Alhaddad’s kalendar

November 2017
I S R K J S A
« Mac    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Pengumuman Alhadaddad’s

Kebanyakan artikel di dalam blog ini adalah dari sumber-sumber lain. bukan sepenuhnya karya asli penulis. Harap maklum.

Top Clicks

  • Tiada

Flickr Photos