Dunia Sastera

Arkib Pengarang

Ku terpukul angin
terbawa dari jauh, tempatku meluruh

Tenang kubawa
topeng penuh derita, lara cinta

Tegak kepala
tunjukkan dahi, banggaku perih

Angin yang kau tebar aroma sayat ulu hati
belah yakinku : tentangmu

Lalu...

Tegak kepala
kuhapus air mata : patah asa

Angin hembus rambutku, belai sedihku
Kesepian temaniku, saat tiada kamu

Nantiku terpeluk sakit, tesudut pelik

Angin...
Sampaikan, luka hatiku : aku tak mampu menangung rindu

Sudah berbilang musim beta tidak juga pulang
Meski kapal-kapal bersipacu nasib baik belum
berkunjung
Ada luka tersimpan disana, mau bikin apa sio gandong
Itu tanah milik siapa sio kona nama yang hilang

Siapa kini penjaga  cahaya jika bobato tergiur kursi
Masjid dan langgar sepi puisi tak ada lagi yang baca
barjanji
Di singgasana para kolano memanen rejeki
Melingkar janji dengan tarian jin salai, eeee
doti-doti

Sudah berbilang musim kaki langit terkurung mendung
Tapi  tuan governur bilang jangan coba untuk pulang
Ale masih harus bikin perhitungan di tiang gantung
Kalau mau terus berdiri sebagai petarung, sio gandong

Tuan boleh unjuk gigi pake manyiang deng kabaya donci
Tapi beta anak negeri dengan seribu panah puisi
Kalau sampe beta marah nanti, beta bikin laut mandidi
Ikan-ikan lari, irama tifa deng bunyi tahuri, tuan
mati

”Mari tuan katong baku cigi, beta siap mati”

Banda Aceh, 24 Februari 2008-02-25
dino f. umahuk <valdinho74@yahoo.co.uk>

Kaicil Paparangan= Gelar Sultan Nuku
Basudara tuang hati jantong= Saudara sehati se jantung
Gandong= Saudara kandung
Sio kona= aduh kasihan
Bobato= Pemuka agama dan adat di Maluku Utara
Kolana= Kepala Pemerintahan Adat di Maluku Utara
Jin Salai= Tarian Jin
Doti-doti = ilmu hitam
Manyiang deng kabaya donci= pakaian untuk ke pesta
Mandidi = mendidih
Tahuri= alat musik dari kulit bia (kerang laut)
Baku cigi= memancing ikan kecil untuk umpan

Lalu nona tikam janji seperti setan bermain api
Perempuan dengan mata setajam duri
Darimana cakar kuntilanak menorehkan hati
Kau selalu saja diam-diam menyimpan belati

Maka pada purnama kesekian yang menelikung janji
Kita semakin tak bisa mengukur debar di urat nadi
Ada saja air garam kau rebus di dalam panci
Berharap cinta cepat matang dia malam hari

Aku bukannya tak pernah sudi memadu janji
Tapi jarak semakin tergugu di ujung jemari
Perempuan dengan rambut sehitam kenari
Sudah berapa rindu pernah kau titip ujung pelangi

Banda Aceh, 24 Februari 2007

dino f. umahuk

Kembali Ke Titah
Oleh: D Kemalawati

Ketika saya telah menerima tawaran Dino Umahuk untuk
menulis pengantar untuk buku puisinya, saya baru
menyadari bahwa saya belum pernah membaca satu puisi
pun karya Dino Umahuk secara bersungguh-sungguh. Saya
baru mengenal Dino beberapa bulan yang lalu. Beberapa
kali saya melihat  Dino tampil pada pentas
musikalisasi puisi bersama Rahmad Sanjaya dengan
komunitas Rumah Sawahnya. Dino memang baru menetap di
Banda Aceh walau pun jauh sebelumnya dia pernah
berkunjung beberapa kali ke Aceh, baik ketika masih
mahasiswa maupun ketika konflik berkecamuk di Aceh.
Setelah tsunami melanda Aceh, Dino kerap datang dengan
misi kemanusiaannya. Dan akhirnya ia memperoleh
pekerjaan yang mengharuskan ia menetap untuk beberapa
tahun mendatang di bumi Iskandar Muda ini.

Ternyata begitu draf buku puisi berada di tangan saya,
saya justru merasa bahwa saya sedang membaca karya
para penyair Aceh yang menuliskan keindahan alam
baharinya dengan penuh imaji, kerinduan pada Sang
Khalik, keterasingan dalam negeri sendiri karena
konflik yang sengaja diciptakan, tentang hilangnya
rasa kasih sayang, serta musibah besar gelombang
tsunami. Beberapa puisi cinta yang ditulis Dino
menggunakan imajinasi yang sama dengan penyair Aceh.
Maka sajak-sajak Dino menjadi sangat familiar bagi
saya meski pun alam kelahiran Dino yang jauh di Ambon
sana memiliki kultur  yang mungkin agak berbeda dari
Aceh.

Puisi-puisi yang terkumpul dalam Metafora Birahi Laut
ini ditulis dalam berbagai tema. Lalu sang penyair
memilah berdasarkan tema dengan memberi sub-sub judul.
Yang menurut saya pada sub judul Haluan Menuju,
puisi-puisi Dino sangatlah kuat dan memiliki nilai
religi yang agak jarang ditulis oleh penyair seusia
Dino. Oleh sebab itu maka  pengantar saya beri judul
Kembali ke Titah, yang kiranya tak meleset jauh dari
apa yang ditulis Dino tentang kematian dan jalan
pulang.

Setiap detak nafas adalah meringkas jalan pulang
entah bersama entah sendiri
menempuh jarak ke pangkuan Ilahi Rabbi
(“Berlayar Pulang”)

Dino menyadari bahwa setiap detak nafas tak lain
adalah pengurangan usia bagi makhluk hidup. Manusia
yang kadang alpa memaknai helaan nafas selalu berlaku
sombong dan angkuh merasa hidup akan selamanya.

Bagi Dino, mati bukan soal. Karena siapa pun yang
hidup akan mati apabila telah sampai ajalnya. Tetapi
yang diresahkan Dino adalah bagaimana cara dia
menjumpai Ilahi Rabbi jika selama hidupnya ia merasa
penuh dosa.

Mati bukan soal apa tapi bagaimana
menuju pulang lautanku penuh jelaga
(“lautan Jelaga”)

Kalau pada puisi Lautan Jelaga, Dino meresahkan
dirinya yang akan kembali tetapi lautannya penuh
jelaga maka pada menuju kematian, ia meyakini
tiap-tiap yang hidup akan mengalami mati. Banyak sebab
seseorang itu mati. Ada yang mati dengan tenang, ada
yang mengalami kecelakaan, musibah bencana alam, mati
karena aksi kekerasan hingga mati bunuh diri dengan
meracuni diri bahkan sampai aksi bunuh diri dengan
memasang bom yang bukan hanya berniat menghantar
kematian diri sendiri tetapi memaksa malaikat membawa
nyawa-nyawa lain yang tak bersalah. Dino menulis dalam
Menuju Kematian

Seperti apapun nyawa-nyawa melangkah pergi
hanya soal cara bagaimana malaikat menghampiri
(“Menuju Kematian”)

Bukan, bukan kematian itu yang dipermasalahkan karena
semua yang hidup pasti akan mati. Soal  cara bagaimana
Malaikat menghampiri untuk mencabut nyawa seseorang
yang kemudian  sering merupakan sebab yang
diperbincangkan.

Izrail mengintai nyawa-nyawa untuk dikirim
pulang ke langit tujuh lapis
di Baiturrahman sayapnya singgah telah
terangkat seratus ribu lebih nyawa
(“Izrail Mampir di Bumi Aceh”)

Ketika tsunami melanda Aceh, Minggu pagi 26 Desember
2004, malaikat bergentayangan hilir mudik melintasi
Serambi Mekah. Ia melihat air laut tumpah
menghilangkan tanah daratan. Izrail datang mengintai
nyawa-nyawa untuk dikirim pulang. Saat itu ratusan
ribu nyawa terpisah dari badan dan banyak kita melihat
tapi tak mengenal maka hanya Izrail yang menandai
tubuh dan roh yang dibawa pergi.

Kematian adalah kematian tulis Dino dalam puisinya.
Tapi menyaksikan kematian yang akibat bunuh membunuh
menimbulkan gulana hingga ia perlu mengajak umat
beragama untuk menanyakan pada Rasulnya masing-masing
apakah memang agama Tuhan mengajarkan umat manusia
untuk saling membunuh.

Bila nanti siang kau sholat Jum’at
barangkali di Mesjid Al-Fatah
atau hari Minggu nanti kau ibadah
atau ikut Missa mungkin di Gereja Maranatha
mungkin di Kadetral
tolong tanyakan kepada Muhammad dan Isa
yang Agung itu
apakah mereka mengajarkan agama Tuhan
agar saling membunuh?

Kalau memang demikian
mengapa agama melarangku bunuh diri

(“Agama Bunuh Diri”)

Membaca puisi-puisi Dino meskipun menggunakan bahasa
yang terkesan klise tapi  pencarian diri telah sampai
pada titik yang mencengangkan. Hanya dengan bahasa
yang sederhana kita diajak untuk menerima dengan
ikhlas apa yang seharusnya akan terjadi. Ia tidak
mengeklusifkan dirinya dengan keimanan yang dianutnya.
Tentu yang sangat diinginkan adalah suasana damai di
muka bumi tanpa ada pertumpahan darah sehingga ia
memerlukan mengajak umat Nabi Muhammad dan kaum Nabi
Isa untuk menanyakan tentang ajaran agama
masing-masing tentang bunuh membunuh.

Selain puisi-puisi bernuansa religi, puisi-puisi cinta
baik untuk tanah kelahiran maupun untuk sang kekasih
bertebaran dalam kumpulan puisi ini. Beberapa sajak
pelarian menguatkan kerinduan Dino pada kampung
halamannya dan kegelisahannya dapat kita pahami
apabila limit waktu kepulangan tak ada kata pasti.

Ini bulan keduabelas
dari pelarianku yang tak kenal batas waktu
bersama keyakinan yang membongkah jadi batu
adakah jiwa sunyi ini
punya tempat untuk pulang

(“Sajak Pelarian V”)

Betapa bedanya seorang pelarian dan seorang perantau
ketika merasakan kerinduannya pada kampung halaman.
Sang perantau tanpa rasa gundah akan pulang kapan saja
ia inginkan, tetapi bagi seorang pelarian tentu tak
seleluasa perantau. Bisa jadi selamanya ia tak bisa
kembali meskipun kampung dan seluruh penghuninya tak
ada lagi.
Sebagai seorang anak yang mengharapkan ibunya, Dino
sang penyair masih selalu berharap.

Ibu
mimpi pasti membunuhku malam nanti
di tanah pelarian yang begini jauh
apakah doamu akan sampai?

(“Ibu”)

Betapa menderitanya seorang pelarian. Tak ada rasa
aman, sebab mimpi pun akan membunuhnya. Tapi meskipun
ia terbunuh ia masih mengharapkan doa dari orang yang
telah melahirkannya. Sebuah doa yang diyakininya akan
diaminkan malaikat dan dikabulkan oleh-Nya.

Dino tidak cengeng dalam karya meskipun ia hidup dalam
pelarian yang panjang.. Konflik yang melanda Ambon
memang memisahkan dirinya dari hangatnya pasir putih
dan lincahnya gelombang laut. Hanya raga yang memberi
jarak tetapi batinnya, batinnya sangat dekat mendekap
Ambon. Puisi-puisi yang terdapat dalam Kipas Lenso
Putih benar-benar menghipnotis kita seolah-olah kita
hadir di kota yang sangat eksotis itu. Kita seakan
berada di teluk, di sebuah dermaga tua dengan perahu
mengambang dan ikan menari-nari di bawahnya. Telinga
kita seakan mendengar nyanyian para jejaka dan kipas
lenso diayunkan. Angin semilir, langit temaram dan
kaki-kaki perkasa sambil bersiul melempar jala dan
percikan air laut menerpa rahangnya. Aroma mantra dan
Pattimura yang muram benar-benar menyatu dalam Kipas
Lenso Putih.

Dino telah bercerita banyak hal dalam puisinya . Ia
kadang meliarkan imajinasi kita dengan bahasa
sederhana. Hanya yang membuat kita sulit menyelusuri
perkembangan kepenyairannya justru karena dalam
penyusunan puisinya Dino tak mengurutkan berdasarkan
tahun penulisan. Tapi bagaimanapun Dino telah
memberikan sesuatu yang berharga dalam karyanya yang
mungkin akan kita rasakan manfaatnya suatu saat nanti.
Dan bagi saya yang baru membaca karya Dino, saya
menemukan kepuasan yang luar biasa meskipun saya tidak
bisa menulis pengantar yang lebih bagus. Karena
sesungguhnya saya seorang penulis, sama seperti Dino
Umahuk.

Terpandang aku
Bicara rendah hati si bunyi embun
Terdengar dalam gemersik bisik malu
Semboyan itu telah berbunyi
Perlahan dan penuh tatatertib…

Buka lah mata mu..
Buka lah segala deria pendengaran ..

Bukalah pintu hati mu..
Dia telah lama di depan pintu…

– oney –

Ada apa pada cinta??
Suatu Masa dulu bagiku cinta itu suci
Tiada apa yang boleh menandingi
Tapi kini semua itu tiada lagi bererti

Ada apa pada cinta??
Hanya manis pada bicara
Kononnya tiada curiga
Kan kekal ke akhirnya

Ada apa pada cinta??
Hanya duka dan lara
Tidak difahami bagi mereka yang tidak mengalaminya

Tapi,
aku percaya pada satu cinta yang tiada akhirnya
Hanya cinta pada yang Esa…….
Kan kekal selamanya………

“ctshuhadah”

Malam ini suasananya berbeda…
Kupandang langit begitu indah…
Begitu banyak bintang di angkasa…
Berkilau seperti intan permata…

Namun di antara berjuta bintang…
Hanya satu yang kupandang…
Ada yang berbeda dari kilaunya…
Tak seperti bintang pada umumnya…

Hati ini pun ingin memilikinya…
Tapi apa daya kuhanya manusia biasa…
Ku tak sanggup untuk menggapainya…
Ku hanya bisa memandanginya…

Akankah bintang itu turun ke bumi…???
Dan bersinar di hati yang telah lama menanti…
Apapun bisa saja terjadi atas kehendak Illahi…
Akupun bersabar menanti bintang pilihan Rabbi…

“syazie1979”


Tajuk-tajuk Sastera

Alhaddad's Blog Stats

  • 22,353 kali dilawati

Alhaddad’s arkid

Alhaddad’s kalendar

Julai 2017
I S R K J S A
« Mac    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Pengumuman Alhadaddad’s

Kebanyakan artikel di dalam blog ini adalah dari sumber-sumber lain. bukan sepenuhnya karya asli penulis. Harap maklum.

Top Clicks

    Flickr Photos