Dunia Sastera

Archive for Februari 8th, 2008

Alam,
Engkaulah tempat ku dibesarkan dan bermain,
Kau cantik, kau ditumbuhi dengan flora dan fauna yang beraneka rupa,
Kau digunakan untuk pembangunan, pertanian dan petempatan,
Banyak sungguh jasa yang telah engkau sumbangkan.

Manusia,
Kaulah makhluk Allah di dunia,
Kau amat kusanjungi,
Kau cerdik, kau pandai menggunakan segala pemberian yang Maha Esa,
Kau telah menggunakan alam untuk memenuhi keperluanmu,
Tetapi malangnya ada manusia yang alpha dan tamak haloba,
Sanggup menyalahgunakan alam nikmat pemberian Tuhan ini,
Dari alam yang cantik, telah bertukar wajah menjadi alam yang penuh
dengan pencemaran.

Oleh itu,
Jagalah dan peliharalah alam kita,
Tanamlah tumbuh-tumbuhan dari benih-benih cinta yang subur, sirami
dan bajailah ia
Jagalah keindahan serta kebersihannya,
Supaya bumi tempat kita berpijak tidak disalahgunakan,
Alam yang bersih melahirkan anak-anak yang sihat.

by: Sharifah azie

Citra Cinta
Rhoma Irama
Cipt. Rhoma Irama
Album: Soneta Vol. 12

Dihiasi alam manusia ini
Dengan cinta sebagai rahmat-Nya

Agar dapat hidup berkasih-sayang
Laki-laki dan perempuan
Agar dapat mengembangkan keturunan
Demi penerus perjuangan

Bila datang rasa cinta hati-hati dan waspada
Jaga, pelihara, serta kuasailah
Sehingga sampai waktunya halal bagimu berdua
Bila biduk cinta tiba di titik nikah

Banyak sudah tunas-tunas muda
Berguguran sebelum berkembang

Korban dari nafsu birahi durjana
Yang mengatasnamakan cinta
Janganlah kau menodai citra cinta
Yang memang suci dan mulia

Syukurilah anugerah cinta
Pelihara nilai citra cinta

kamu mungkin cinta matiku
diantara sekian pesona tertebar yang ada

kamu mungkin keinginan dasarku
diantara beribu keinginan luasku

kamu mungkin serimbun akar pohon kehidupanku
yang bercabang tak henti henti

Aku temukan hal indah di garismu
telanjangi buruk garis-garis gelapku
menyekaku dari belokan alurku
membimbingku ke lurusnya jalanmu

………………….
kematian rasamu kematian jiwaku
ambingkan aku ke sayap tak pastiku
jatuhkanku ke persimpangan sesatku
luruhkanku di penantian semuku

Bunga Matahariku,
ketiadaan asamu ketiadaan ilhamku

Rio de Rush
Jakarta, 20 June 2001

Kita belajar apa itu cinta dari seorang ibu yang menyusui anaknya
dalam gendongan,
sedangkan kedua belah tangannya sibuk menisik selimut keluarga.
Dalam dadanya tiada sesuatu apa selain ketulusan memberi atas nama cinta.

Kita belajar apa itu cinta dari seorang ayah yang membawa pulang
sejumput padi
dan setuang air setelah seharian berterik-terik di ladang.
Dalam dadanya tiada sesuatu apa selain kegembiraan memberi atas nama
cinta.
Karena cinta bukan hanya sekedar pelukan hangat, belaian lembut, atau
kata-kata penuh dayu,

Bahkan cinta bukan hanya cinta yang kita rasakan saat jatuh cinta.
Kita belajar apa itu cinta dari apa pun yang ada di muka bumi.

Dari cahaya matari.
Dari sepasang merpati.
Dari sorot mata anak-anak yang menanti pemberian.
Dari sujud dan tengadah doa.

Dari apa pun!

Dari seluruh kelahiran, yang kita sambut dengan cinta,
hingga kematian yang
kita larung dalam cinta,
kita hanya belajar satu hal: cinta.

Dan kehadiran kita dalam hidup ini pun tiada maksud lain selain
mewujudkan cinta.

Karena itu,
tiada yang pantas kita lakukan selain
atas nama cinta kita yang teragung.

From:    Abdul Karim

WAKTU

Dan seorang pakar perbintangan berkata, Guru, bagaimanakah perihal
Waktu?

Dan dia menjawab:
Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.
Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan
perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.
Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, diatas bantarannya
kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.

Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan nan
abadi,
Dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok hari
adalah harapan.
Dan bahwa yang bernyanyi dan merenung dari dalam jiwa, senantiasa
menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.
Setiap di antara kalian yang tidak merasa bahwa daya mencintainya
tiada batasnya?
Dan siapa pula yang tidak merasa bahwa cinta sejati, walau tiada
batas, tercakup di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari
pikiran cinta ke pikiran cinta, pun bukan dari tindakan kasih ke
tindakan kasih yang lain?
Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada
kenal ruang?

Tapi jika di dalam pikiranmu haru mengukur waktu ke dalam musim,
biarkanlah tiap musim merangkum semua musim yang lain,
Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa
depan dengan kerinduan.

+khalil gibran +

Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.

Dan dia? menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.

Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam? persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika? kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.
+khalil Gibran+

Salleh dan Salleha sedang duduk bersama di taman kampus tanpa
melakukan apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat
mereka yang lain sedang asyik bercanda ria dengan kekasih masing-
masing.

Salleha : ” Ahhh!! aku bosan. Aku berharap aku juga mempunyai
kekasih yang dapat bersama berkongsi waktu denganku. ”

Salleh : ” Nampaknya cuma tinggal kita berdua saja yang masih single
mingle, masih tidak mempunyai pasangan sekarang.” (keduanya mengeluh
dan berdiam beberapa saat)

Salleha : ” Aku ada idea best nie. Kita adakan permainan jom? ”

Salleh : “Errr? Permainan apa? ”

Salleha : “Ermmmmm… sonang tu bah. Apa kata kau jadi kekasihku dan
aku jadi kekasihmu tapi hanya untuk 100 hari saja….. camnerr okay
tak? ”

Salleh : ” Baiklah… lagi pong aku juga belom ada agenda apa-apa
untuk beberapa bulan nie. ”

Salleha : ” Lerr… cam tak ikhlas jerr…. nak tak nak??… semangat
sikitlah! Hari ini akan jadi hari pertama kita bercouple. Kita ke
mana sekarang? ”

Salleh : ” Camnerr kalau kita nengok wayang ajerr? Kalau tak salah
cerita Love Is Cinta tengah now showing nie….. Ajeb ngan Adha cakap
citerr nyerr best tau.. dia orang kasi 4 bintang lagi. ”

Salleha : “OK sett!!!…. Jom kita pergi sekarang. Pastu kita gi
karaoke yerr… agak-agak kalau kita ajak sama MasPenn ngan Lili tu
dia nak tak??? ”

Salleh : “Boleh juga…” ( mereka berdua pun pergi menonton,
berkaraoke dan Salleh menghantar Salleha pulang selepas itu )

Hari ke 2 :

Salleh dan Salleha menghabiskan waktu untuk berbual dan bercanda di
kafe, suasana kafe yang remang-remang dengan alunan muzik yang
syahdu membawa hati mereka pada situasi yang romantis. Sebelum
pulang Salleh membeli sebuah kalung perak yang berloketkan sebiji
bintang untuk Salleha.

Hari ke 3 :

Mereka pergi ke Mall membeli-belah untuk mencari hadiah buat Lady
Rye, seorang sahabat Salleh. Setelah lelah berkeliling dalam Mall,
mereka memutuskan untuk membeli sebuah jam tangan. Setelah itu
mereka beristirehat dan duduk di foodcourt, makan sepotong kuih dan
satu gelas jus berdua dan mulai berpegangan tangan untuk pertama
kalinya.

Hari ke 7 :

Bermain bowling dengan teman-teman Salleh. Tangan Salleha terasa
sakit kerana tidak pernah bermain bowling sebelumnya. Salleh memicit-
micit tangan Salleha dengan lembut.

Hari ke 25 :

Salleh mengajak Salleha makan malam di Danga Bay. Bulan sudah
menampakkan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang
dalam pelukannya. Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati
suara desir angin berpadu dengan suara gelombang bergulung di
pantai. Sekali lagi Salleha memandang langit, dan melihat bintang
jatuh ( shooting stars ). Dia mengucapkan suatu permintaan dalam
hatinya.

Hari ke 41 :

Salleh menyambut ulang tahun. Salleha membuatkan kek ulang tahun
untuk Salleh. Bukan kek buatannya yang pertama, tetapi kasih sayang
yang mulai timbul dalam hatinya membuat kek buatannya itu menjadi
yang terbaik. Salleh terharu menerima kek itu, dan dia mengucapkan
suatu harapan saat meniup lilin ulang tahunnya.

Hari ke 67 :

Salleh dan Salleha menghabiskan waktu di Sunway Lagoon. Berjalan
sama di The World’s Longest Pedestrian Suspension Bridge, sambil
menikmati pemandangan. Naik The Viking, makan aiskrim bersama, dan
mengunjungi kiosk permainan. Salleh menghadiahkan sebuah boneka
teddy bear besar bermata biru untuk Salleha, dan Salleha membelikan
sebuah MP3 thumbdrive player untuk Salleh.

Hari ke 72 :

Pergi ke Suntec City di Temasik. Melihat meriahnya pameran dari
negeri Cina. Salleha mengajak Salleh untuk mengunjungi salah satu
kiosk “Fortune Telling”. Sang peramal hanya mengatakan “Hargai
waktumu bersamanya mulai sekarang” kemudian peramal itu menitiskan
airmata.

P.S : Korang jangan pulak besok-besok gi jumpa tukang telek pulak…
tang ini cuma buat sedapkan jalan citerr jerr…

Hari ke 84 :

Salleh mengusulkan agar mereka berlibur ke pantai. Pantai desaru
kelihatan sepi kerana bukannya waktu percutian bagi orang lain.
Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil
berpegangan tangan, merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut
menghempas kaki mereka. Matahari terbenam, dan mereka berpelukan
seakan tidak ingin berpisah lagi.

P.S Lagi : Tang peluk-peluk nie pong… korang jangan pulak nanti
serang jebat pasai buat adengan peluk-peluk… sama jugak macam yang
kat atas tu… sajerr nak panjangkan citerr…

Hari ke 99 :
Salleh memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan bersantai
sambil berputar-putar tanpa arah tujuan keliling bandar dan akhirnya
duduk di sebuah taman.

1520hrs

Salleha : ” Aku haus. Rest kejap okay. ”

Salleh : ” Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aye nak
minum “Green Tea”; You nak minum apa? ”

Salleha : ” Biar I saja yang beli. Aye kan penat putar stering
keliling bandar hari ini. Sekejap yerr ”

Salleh mengangguk. Kakinya memang suka simpul biawak atau cramp
kalau lama memandu.

1530hrs

Salleh sudah menunggu selama 10 minit and Salleha masih belum
kembali juga. Tiba-tiba seseorang yang tidak dikenali berlari
menghampiri Salleh dengan wajah panik.

Salleh : ” Ada apa Cik? ”

Orang asing : ” Ada seorang perempuan dilanggar kereta. Rasa-rasanya
macam temanmu tadi ”

Salleh segera berlari bersama orang itu. Disana, di atas jalan yang
panas terjemur terik matahari siang, tergeletak tubuh Salleha
bersimbah darah, masih memegang botol minumannya. Salleh segera
menelefon ambulan dan langsung mengikut Salleha ke rumah sakit
bersama-sama ambulan. Selama 8 jam 10 minit, Salleh tidak senang
duduk diruang menunggu bilik kecemasan. Sekejap berdiri… sekejap
mundar-mandir.. fikiran Salleh bercelaru. Seorang doktor keluar
dengan wajah penuh penyesalan.

2353hrs

Doktor Zuhana : ” Maaf, tetapi kami sudah cuba melakukan yang
terbaik. Dia masih bernafas sekarang tapi Yang Maha Kuasa akan
segera menjemput. Kami menjumpai surat ini dalam kocek bajunya. ”

Doktor Zuhana memberikan sekeping surat yang terkena percikan darah
kepada Salleh dan Salleh segera masuk ke dalam bilik rawatan untuk
melihat Salleha. Wajahnya pucat tetapi kelihatan damai. Salleh duduk
disisi pembaringan Salleha dan menggenggam tangan Salleha dengan
erat. Untuk pertama kali dalam hidupnya Salleh merasakan torehan
luka yang sangat dalam di hatinya. Butiran airmata mengalir dari
kedua belah matanya. Kemudian dia mulai membaca surat yang telah
ditulis Salleha untuknya.

Sahabatku Salleh…
Ke 100 hari kita sudah hampir berakhir. Aku menikmati hari-hari yang
telah ku lalui bersamamu. Walaupun kadang-kadang kau buat derk dan
tidak dapat ku membuat telahan, tetapi semua perkara itu telah
membawa kebahagiaan dalam hidupku.

Aku sudah menyedari bahawa kau adalah jejaka yang berharga dalam
hidupku. Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih
dalam lagi sebelumnya.

Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita dapat
memanjang hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang ku ucapkan
pada bintang jatuh malam ( shooting stars ) itu di pantai, Aku ingin
kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi kekasihmu
selamanya dan berharap kau juga akan berada disisiku seumur hidupku.
Salleh, aku sangat sayang padamu.

by: “chipmunk_malaysia”

Sepi dalam CINTA, gema gitar yang dipetik melahirkan irama keluhan
hati yang meresap ke lubuk sanubari. Kerana CINTA, semuanya terasa.
Seni dalam CINTA mengalirkan perasaan yang menyelubungi ruang hati.
Kerana segenap penjuru mahukan rindu berbening. Air mata dan CINTA
tidak mampu dipisahkan; umpama aur dengan tebing. Sesekali CINTA
berubah, sesekali air mata tercurah. Bila hati gelap gelita kerana
CINTA yang terpisah, berderau rasa gelisah sepanjang hari. Dan malam
berasa panjang, angin bertiup dirasakan teramat dingin. Saat itu
segala kepasrahan hidup terucap di depan. Semua gelap dan tiada lagi
dirasakan indah bakal di depani. Demikian rentak muzik menyusuri
masuk ke dalam jiwa sebagai ganti penghibur sepi.

Adakah yang dimainkan oleh gitar M. Nasir itu bukan daripada
sentuhan hati? Mungkin lahirnya lagu seperti Cinta Sepi, Demi Masa
dan Dari Kekasih Ke Kekasih sewaktu dia dilamar kasmaran yang
dahsyat. CINTA dari hati seorang berjiwa seni adalah terlalu
mendalam. Maka terlahir seni dari hati yang teramat sepi.

Petikan gitar, geseran biola dan alunan suara merdu terlalu
diperlukan di kala sepi dari CINTA yang berpusar ganas. Bila
permainan perasaan terlalu jauh terlayang, maka alam bertukar wajah.
Kita bukan lagi berada di alam yang nyata, tetapi khayalan akan
lebih kuat menguasai sekitar benak minda. Segala kewarasan akan
terhenti seketika dan realiti sebenar kehidupan terlupa sejenak.
Alam CINTA yang ditanggung menjadikan CINTA kebuntuan memecah
perjalanan hidup. Benarlah kata Azman Husin, “CINTA menjadikan
seorang intelektual menjadi bodoh,” untuk menilai dalam keadaan
realiti sebenar.

Malam, bulan dan bintang, adalah asas dalam kehidupan yang sentiasa
berlegar harmonis di antara CINTA dan rindu, resah dan cemburu.
Mungkinkah akan terjawab segala gelora resah yang mencengkam hati.
Akhirnya falsafah CINTA akan terbias di puncak sepi. Di samping
segala sajak dan puisi terlahir di kaki malam sebagai cara
melepaskan sepi. Hanya kerana CINTA, hati manusia mampu dilembutkan.
Perubahan tingkah laku juga dapat dirasakan kiranya alam CINTA telah
bermula. Adakah selepas berakhirnya alam CINTA mampu mematangkan
perangai dan pemikiran? Dan sekiranya kekecewaan yang dialami sudah
terlupa, mungkinkah kita lebih berhati-hati dalam sesuatu yang
berbentuk perasaan?

CINTA sebagai satu kemestian. Adakala CINTA itu bermula pantas
sekali dan perlahan-lahan. Dari pintu hati ia berbenang dan lama
kelamaan segulung kasih tersimpul erat di dalam hati. CINTA perlu
dipupuk supaya sentiasa segar dan kehijauan seperti dedaun yang
berkilauan disirami cahaya pagi. CINTA itu terlalu indah. Seindahnya
umpama sejambak bunga cantik, berwarna-warni, segar, harum dan wangi
kalau kena gubahannya. Dan bunga yang dipilih daripada jenis yang
subur dan baru mekar dari kelopak. Kalaulah kita pandai
menggubahnya, semakin berserilah CINTA itu. Dan kalaulah tersalah
gubahannya, CINTA yang diimpikan kurang berseri dan tiada keharuman
menyelubungi suasana sukma. Tak siapa sudi menghargai CINTA yang
diberikan.

Kesepian menjadikan CINTA semakin mendalam. CINTA daripada gadis
yang pendiam dan pemalu adalah sifat sejati. Sifat pendiam dan malu
membuatkan CINTA dari hatinya mengalir untuk yang satu. CINTA
seorang gadis desa penuh dengan kesetiaan dan kejujuran. Hubungan
sosialnya dengan kawan-kawan yang selalu terbatas menyebabkan dia
hanya memadai mengenali yang diCINTAinya. Ditambah kesunyian suasana
desa yang damai, terasing dan jauh dari kekalutan kota yang sentiasa
palsu penuh kepuraan CINTA.

Di celah kehidupan kampung diselubungi sepi, CINTA menjadi fokus
utama dalam hati seorang remaja desa. CINTA lahir dalam hati kerana
kesunyian dan kesepian seringkali mengundang kepada kerinduan. Dari
kerinduan menghasilkan pelbagai penyeksaan kerinduan batin dan CINTA
itu adalah suci sekiranya dibatasi landasan syariat. CINTA seorang
gadis desa penuh berliku dan melalui ranjau yang berduri. Tiada apa
yang dapat menghiburkan hati melainkan sekeping potret sebagai
penawar. Di waktu malam, dinginnya udara, bisunya alam dari bunyian
dibilas dari samar-samar cahaya bulan mengundang soal CINTA mula
bermain di hati.

Tiada teman berbicara, CINTA dalam hati cukup berkecamuk. Pelbagai
anggapan dan tafsiran datang berombak-ombak bersama rasa kepiluan
dalam hati. Mungkinkah yang diCINTAi tidak dapat dimiliki? Dari hari
ke hari, CINTA kian bersemi dalam dakapan hari sewaktu berlari.
Dalam diari perasaan diluahkan demi mencari kedamaian hati. Di taman
sanubari CINTA telah bersatu untuk melakar hidup di alam yang
diimpikan.

CINTA gadis kota pula jarang sekali kesetiaan dihargai dan senang
tawar CINTAnya. Mudah hatinya bertukar dan berubah mengikut cita
rasa. Kenangan yang dibina mudah bertiup pergi seumpama debu-debu
kian berterbangan. Hubungan sosial yang luas memadamkan perasaan
CINTA yang satu dan secara mendalam keasyikannya. Kesetiaan jarang
dihormati kerana CINTA yang satu mengheningi tiada terpaut kukuh di
dalam lubuk hati. Kesibukan waktu menyekat perasaan CINTA mengalir
deras dalam belahan jiwa. Malah CINTA yang lahir senang mati apabila
sesuatu yang terjadi di luar dugaan. Kemuncaknya dalam perCINTAan
banyak perkara boleh berlaku. Apatah lagi keadaan trend kini óne
night stand’ sudah menjadi perkara biasa untuk membuktikan CINTA
bila sampai ke paras kemuncaknya.

Yang pasti menjadi lumrah kegagalan dalam menggapai CINTA akan
membawa kesan secara tidak langsung kepada peribadi diri. Tahap
kekuatan dalaman jiwa terpulang pada diri untuk menghadapi konflik
perasaan yang sentiasa membayangi diri. Barangkali banyak sudah
muncul watak Laila Majnun yang tidak diketahui umum. Dan barangkali
juga dia berada di kanan dan kiri anda? Pandanglah manusia di
sekeliling dengan mata hati dan mata kasar. Pasti anda akan temui
sesuatu yang baru. Dan mungkin memberi makna. Tanyalah pada hati,
renunglah pada sebutir bintang. Di manakah letaknya CINTA dalam
kehidupan? Pandanglah pada senja, nescaya apa tersembunyi memberi
makna. Dan kita pasti berasa akan NILAI SEBUAH CINTA…

by: “chipmunk_malaysia”


Tajuk-tajuk Sastera

Alhaddad's Blog Stats

  • 25,764 kali dilawati

Alhaddad’s arkid

Alhaddad’s kalendar

Februari 2008
I S R K J S A
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Pengumuman Alhadaddad’s

Kebanyakan artikel di dalam blog ini adalah dari sumber-sumber lain. bukan sepenuhnya karya asli penulis. Harap maklum.

Top Clicks

  • Tiada

Flickr Photos